"Kami berharap 50 ribu ton target penjualan tahun ini bisa tercapai," ujar Direktur Keuangan Krishna Syarif di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (16/6/2009).
Krishna mengakui dampak krisis ekonomi glonbal tahun lalu masih dirasakan perseroan pada saat ini sehingga terjadi penurunan permintaan sebesar 5-10%.
"Tapi dengan harga komoditi sampai US$15.000 per ton akan diikuti peningkatan demand di seluruh kawasan Asia Pasifik termasuk Eropa. Kita harapkan bisa komit untuk capai target tersebut," jelasnya.
Mengenai realisasi penjualan hingga pertengahan tahun ini, Krishna memperkirakan sudah mencapai setengah dari target tersebut. "Targetnya 50.000 ton. kita harapkan Mei atau Juni sudah setengahnya," ungkapnya.
Sementara itu, Corporate Secretary perseroan Abrun Abubakar menyatakan untuk mencapai target tersebut perseroan berencana untuk masuk ke pasar spot.
"Kita masih wait and see . Kalau harga membaik kita akan masuk ke pasar spot sehingga penjualan bisa mencapai 50 ribu ton," kata Abrun.
Untuk menggejot penjualan tersebut, lanjut Abrun, Timah berencana melakukan ekspanasi ke pasar Amerika Utara.
"Di sana baru 1% dari kita karena kita kompetisi dengan negara Amerika Selatan seperti Peru. Kalau mereka kurangi kita bisa masuk atau kita masuk bukan ke timah jenis standar ke timah jenis premium yang harganya plus-plus," tandasnya.
(epi/dnl)











































