Fitch dalam siaran persnya, Kamis (18/6/2009) menjelaskan, penurunan peringkat untuk Pakuwon adalah:
Peringkat jangka panjang mata uang asing dan mata uang lokal (Issuer Default Ratings - IDRs) diturunkan ke 'CC' dari 'CCC' dan ditempatkannya pada RWN.
- Peringkat nasional jangka panjang diturunkan ke 'CC(idn)' dari 'B(idn)'dan ditempatkannya pada RWN.
- Peringkat Obligasi Senior USD 110 juta diturunkan ke 'CC' dari 'CCC' dengan tingkat pengembalian tetap di 'RR4'.
- Peringkat nasional dari Obligasi Senior I (dengan sisa pokok sebesar Rp 71,4 miliar) diturunkan ke 'CC(idn)' dari 'B(idn)'
Fitch menjelaskan, penurunan peringkat-peringkat tersebut mencerminkan masih rendahnya pra-penjualan dari proyek pengembangan Superblok Gandaria di Jakarta dan meningkatnya kemungkinan perusahaan harus merestrukturisasi hutangnya tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada akhir Maret 2009, Pakuwon memiliki kas sebesar Rp 393 miliar yang lebih besar dibandingkan dengan total utang yang akan jatuh tempo di tahun 2009 sebesar Rp 192 miliar. Selain itu, perusahaan juga masih memiliki kas yang dibatasi penggunaannya sebesar Rp 188 miliar yang terdiri dari Rp 35 miliar untuk pembangunan proyek Gandaria dan sisanya sebesar Rp 153 miliar akan digunakan untuk pembayaran kupon Obligasi Senior US$.
Perseroan sebenarnya masih mungkin memiliki arus kas yang cukup untuk pembayaran angsuran pertama dari Obligasi Senior US$ pada bulan November 2009 yaitu sebesar US$ 13,75 juta. Namun demikian Pakuwon berencana merestrukturisasi obligasi tersebut sehingga kas dan potensi arus kas dari angsuran pembayaran pra-penjuan dan dari arus kas berkelanjutan dari Superblok Tunjungan City dapat digunakan membiayai penyelesaian pembangunan proyek Gandaria.
Fitch akan meninjau RWN tersebut setelah memperoleh informasi lebih lanjut dari manajemen atas rencana restrukturisasi hutangnya. Dalam menilai rencana restrukturisasi hutang tersebut, Fitch akan mempertimbangkan apakah restrukturisasi hutang tersebut termasuk kategori 'Coercive Debt Exchange (CDE)' dengan menggunakan CDE kriteria per tanggal 3 Maret 2009.
Pakuwon adalah salah satu perusahaan properti di Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan fokus usaha pada investasi dan pengembangan properti (pusat perbelanjaan, hotel dan perkantoran) serta pengembangan perumahan di Surabaya yang sedang melakukan ekspansi usaha ke Jakarta.
Pada tahun 2008, Pakuwon membukukan penjualan sebesar Rp 454 miliar dan EBITDA sebesar Rp 210 miliar. Pendiri perusahaan, keluarga Alexander Tedja, memiliki 72,7% kepemilikan di Pakuwon. (qom/lih)











































