Pada perdagangan Kamis (18/6/2009), rupiah ditutup masih melemah tipis di Rp 10.268 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 10.240 per dolar AS. Namun rupiah sempat melemah jauh hingga 10.400 per dolar AS.
Menurut pialang valas, Bank Indonesia (BI) sempat masuk ke pasar untuk menghindari gejolak rupiah yang berlebihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk sekarang rupiah masih akan berfluktuasi, makanya kemarin level 9.000 itu nggak akan lama, tergantung kapan nanti diambil duitnya sama asing. Sekarang melemah lagi kan," ujarnya.
Sementara dolar AS di pasar global masih flat posisinya. Dolar AS bertahan di level 95,71 yen, euro naik tipis ke 1,3936 dolar dibandingkan sebelumnya di level 1,3943 dolar. Euro juga sedikit mengendur atas yen ke posisi 133,38 yen, dibandingkan sebelumnya di 133,44.
Dolar AS sempat mengalami tekanan setelah keluarnya data inflasi yang memunculkan ekspektasi kenaikan suku bunga, yang dikhawatirkan bisa mengganggu upaya pemulihan ekonomi.
"Dengan banyak data ekonomi yang keluar pekan depan, para pemain yang memiliki ekspektasi berlebihan atas pemulihan ekonomi AS akan menutup posisi jangka panjang dolar," ujar seorang pialang di Tokyo seperti dikutip dari AFP.
Hal lain yang menggelayuti dolar AS adalah kabar Rusia dan China yang sepakat untuk meningkatkan penggunaan mata uang domestik dalam perdagangan bilateralnya guna mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
(qom/lih)











































