"BAT tidak perlu mengacu pada audit independen, tetapi hanya merujuk pada aturan tender offer dengan harga tertinggi," ujar Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Erry Firmansyah di kantornya, SCBD, Jakarta, Senin (22/6/2009).
Pada konferensi pers akuisisi BAT tehadap Bentoel, Direktur BAT untuk wilayah Asia Pasifik John Daly mengatakan bahwa harga tender offer sisa saham publik Bentoel akan sebesar Rp 873 per saham, sama dengan harga akuisisi per saham.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika melihat data harian sejak 5 Januari 2009 hingga penutupan 16 Juni 2009, harga saham Bentoel berada di kisaran Rp 400-750 per saham. Artinya, harga tender offer sebesar Rp 873 per saham merupakan harga yang sangat premium.
Oleh sebab itu, Erry mengatakan pihak BAT tidak perlu mengacu pada harga yang dipatok auditor independen terkait tender offer ini. Manajemen BAT cukup mengacu pada ketentuan harga tender offer.
"Laporan resmi BAT soal tender offer sudah kita terima hari Jumat," ujar Erry.
Simpang siur informasi soal harga tender offer saham Bentoel telah menyebabkan sentimen gerak naik. Diduga ada pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan kabar tersebut untuk mendorong saham Bentoel.
BEI saat ini sedang melakukan penyelidikan atas dugaan adanya insider trading dalam akuisisi tersebut. Wajar saja, crossing akuisisi baru dilakukan pada 17 Juni 2009. Namun harga saham Bentoel sudah mengalami kenaikan kontinyu sejak 12 Mei 2009.
Sebelum 12 Mei 2009, harga saham Bentoel cenderung bergerak dalam kisaran Rp 420-475 per saham. Namun secara tiba-tiba pada 12 Mei 2009 naik drastis ke level Rp 540.
Dan hanya dalam 25 hari bursa, pada 16 Juni 2009 harga saham Bentoel ditutup di level Rp 750 per saham atau mengalami kenaikan kumulatif sebesar Rp 57,89% jika dibandingkan penutupan 12 Mei 2009 di harga Rp 475 per saham. Saham Bentoel bahkan pada penutupan hari ini ditutup di level 830.
(dro/qom)











































