Berikut analisis CIMB-GK Securities, Selasa (23/6/2009):
Sektor konstruksi kami naikan menjadi OVERWEIGHT dari sebelumnya underweight, melihat recovery FY10, dengan alasan berikut:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Kenaikan GDP dari 3.5% pada FY09 menjadi 5% pada FY10,
- Kredit yang mulai berjalan, meningkatkan permintaan terhadap aset properti
- Belanja pemerintah yang meningkat untuk infrastruktur
- Rollout projek yang sebelumnya tertunda oleh pemilu
- Recovery margin pada FY10 karena tax structure yang baru
- Harga material yang mulai stabil.
Pemerintah menunjukan komitmen untuk proyek infrastruktur, dibantu oleh kredit bank BUMN. Pada awal FY09, budget semulai Rp 63.2 triliun telah dinaikan sebesar Rp 12.2 triliun, dan mayoritas akan diluncurkan pada 4Q09.
Hingga sejauh ini, penggunaan dana baru 2%. Progress dari pembangunan jalan tol masih tertunda oleh masalah pembebasan lahan. Kami melihat akan ada regulasi yang lebih suportif setelah pemilu tahun ini, sehingga menjadi landasan pada FY10.
Kami menaikan sector growth dari 4.5% menjadi 6% pada FY10 meskipun melihat FY09 merupakan tahun yang lambat.
Turunnya harga material & aturan pajak baru
Dengan adanya otonomi daerah di Sulawesi, Sumatra dan Kalimantan, konstruksi di daerah tersebut akan uptrend. Apalagi dengan membaiknya harga komoditas, seperti asumsi harga CPO yang kami naikan ke $710/ton untuk FY10 dan coal price $92/ton untuk FY10, atau rata-rata naik 18%.
Tahun lalu, harga besi/baja naik dari Rp 8.100 ke Rp 11.500/kg pada Jul08. Selain itu karena depresiasi Rp, biaya mekanikal dan engineering cost yang biasanya 28-30% total biaya membengkak. Kondisi saat ini sudah membaik, dengan harga baja turun 50% ke Rp 5800/kg sementara Rp juga menguat.
Perusahaan konstruksi nantinya akan membayar final tax 3% dari pendapatan,dan pajak ini baru akan dibayar ketika mereka mendapat pembayaran kontrak. Aturan pajak baru akan berlaku untuk kontrak setelah 31Dec08. Kami melihat margin akan membaik apda FY10 karena kebanyakan perusahaan telah factor in aturan pajak baru ini sementara projek bersifat multi year.
Kami menaikan rating Sektor Konstruksi dari underperform menjadi OVERWEIGHT dengan melihat recovery private sector dan margin yang membaik. Kami naikan EPS sebesar 3-39% untuk FY09-11. Kami memilih Wijaya Karya (WIKA) sebagai top pick kami karena integrasi yang dimiliki, saham yang lebih likuid serta market cap yang lebih besar 2.5x dibanding Adhi Karya (ADHI) dan 3.6x dibanding Total Bangun Persada (TOTL).
BUMN akan diuntungkan dalam tender projek pemerintah karena pengalaman dan fokus yang dimiliki. Kami memberi OUTPERFORM untuk WIKA dengan target Rp400 (dari Rp270). Kami mempertahankan UNDERPERFORM untuk ADHI dengan target Rp405 (dari Rp270) karena net gearing yang tinggi 162% ditambah kasus monorail. Konflik terakhir dengan Al Habtoor LLC menambah overhang.
Kami memberi rating NEUTRAL untuk TOTL dengan target Rp190 (dari Rp100) dengan 75% projeknya berasal dari swasta.
(qom/lih)











































