Berikut analisis CIMB-GK Securities, Jumat (26/6/2009):
Kami percaya sektor infrastruktur adalah pilar ketiga dari pertumbuhan negara kita dalam 5 tahun kedepan, setelah komoditas dan private consumption. Ketiga capres yang tengah bersaing saat ini setuju bahwa infrastruktur adalah fokus utama dalam mencapai target GDP +7% selambat-lambatnya FY11.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendala utama masih masalah pendanaan dan pembebasan lahan. Dari 1097
km jalan tol yang direncanakan, hanya 12% yang mungkin akan diselesaikan
pada FY09-10. Sehingga reformasi dan komitmen sangat diperlukan
Kami percaya bahwa program PLN akan lebih cepat selesai daripada projek jalan tol. Kapasitas listrik negara kita dari saat ini 29GW akan mencapai 47GW pada FY11 dan 86GW pada FY18, atau sekitar 98% negara kita negara kita memiliki pasokan listrik yang baik.
Apa yang sudah dicapai?
Peraturan pajak dan jumlah NPWP telah meningkat dalam 5 tahun terakhir, sehingga pemerintah memiliki budget yang cukup untuk belanja negara vital.
Regulasi pemerintah seperti garansi untuk projek 10GW, kenaikan tarif tol tiap 2 tahun, dan perubahan cap price dari PPA menjadi B2B negosiasi bermaksud mendukung percepatan projek dan menarik investor asing dan lokal.
Reformasi di sektor migas untuk memperbanyak investasi diperlukan karena dalam 2 dekade terakhir hampir tidak terlihat. Hal ini akan mengurangi subsidi minyak pemerintah.
Kami melihat 5 sektor yang akan diuntungkan dari tema Infrastruktur kali ini, yaitu: batubara, alat berat, semen, jalan tol dan konstruksi. Dari 5 sektor tersebut, ada 13 perusahaan dalam coverage kami dengan total market cap sekitar $22.5 miliar atau 15% dari JCI market cap.
Kami menyukai sektor hulu seperti batubara, alat berat, semen karena memiliki pricing power yang lebih kuat, operating risk yang lebih rendah dan margin yang lebih tinggi.
Sementara sektor jasa seperti operator jalan tol dan konstruksi memiliki margin dan bargaining power yang lebih rendah karena bergantung pada regulasi pemerintah dan birokrasi. Operator juga wajib memiliki capex yang besar, sementara mencari dana di masa seperti ini sangat mahal.
Sektor alat berat mendapatkan multiplier efek dan tidak terlalu terpengaruh oleh price volatility. Korelasi terhadap harga komoditas dan konstruksi sangat tinggi, dan saat ini sudah hampir kembali ke level sebelum krisis.
Pilihan utama kami dari tema kali ini adalah United Tractors (UNTR), Adaro Energy (ADRO), Bumi Resources (BUMI), dan Indocement (INTP). Sementara untuk small-mid cap, kami memilih Hexindo (HEXA) dan Wijaya Karya (WIKA).
(qom/lih)











































