Rupiah akan bergerak tenang menjelang pengumuman inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu, 1 Juli 2009. Data inflasi itu akan menjadi arahan penentu BI Rate kedepannya.
Pada perdagangan Senin (29/6/2009), rupiah dibuka melemah tipis ke 10.275 per dolar AS, dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di level 10.235 per dolar AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun setelah The Fed mengadakan pertemuan, rupiah berangsur membaik. Sepanjang pekan lalu, sebagian besar mata uang Asia bergerak menguat atas dolar AS, terutama setelah Bank Sentral AS (Federal Reserve) memutuskan untuk mempertahankan kebijakan suku bunga rendahnya di kisaran 0-0,25%.
Misalnya yen Jepang, yang mencatat penguatan atas dolar AS. Mata uang negara paman Sam itu menghadapi tekanan karena dengan tingkat bunga rendah, maka permintaan akan rendah untuk beberapa waktu. Rendahnya tingkat imbal hasil atau yield surat berharga AS juga menekan permintaan dolar AS. Investor cenderung mencari mata uang yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
"Dolar AS menghadapi tekanan jual, merefleksikan anjloknya suku bunga dalam jangka panjang," ujar Yuji Saito, kepala forex Societe Generale seperti dikutip dari AFP.
(qom/qom)











































