Sentimen negatif di lantai bursa muncul setelah panel penasihat ekonomi pemerintahan Obama menyatakan bahwa AS harus merencanakan kemungkinan penyediaan dana stimulus tambahan guna mendorong perekonomiannya.
Komentar itu langsung mencuatkan lagi pertanyaan seputar terjadinya pemulihan ekonomi yang cepat, yang sebelumnya telah mendorong saham-saham melonjak hingga 40% sejak awal Maret.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika ada pembicaraan seputar rencana stimulus yang seperti menyiram bensin ke api, maka itu bisa memperluas keprihatinan seputar waktu dan kekuatan pemulihan," tambahnya.
Pada perdagangan Selasa (7/7/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup merosot hingga 161,27 poin (1,94%) ke level 8.163,60. Indeks Standard & Poor's 500 juga merotos 17,69 poin (1,97% ke level 881,03 dan Nasdaq merosot 41,23 poin (2,31%) ke level 1.746,17.
Saham-saham sektor material, energi dan industri yang sebelumnya menjadi faktor penentu kenaikan indeks saham, kali ini justru menjadi penentu kejatuhan. Hal itu terjadi setelah harga komoditas merosot. Tembaga, yang merupakan barometer kekuatan ekonomi global merosot hingga 2%.
Saham perusahaan jasa perminyakan Schlumberger Ltd merosot 4,4%, perusahaan minyak Exxon Mobil Corp merosot 2,3%.
Perdagangan sangat tipis, dengan volume di New York Stock Exchange mencapai 1,11 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu sebanyak 1,49 miliar. Di Nasdaq, transaksi mencapai 2,04 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu sebanyak 2,28 miliar.
Harga Minyak Meluncur
Sementara harga minyak mentah dunia tercatat kembali merosot hingga di bawah US$ 63 per barel, dipicu keprihatinan seputar permintaan energi seiring masih lesunya perekonomian.
Kontrak utama minyak light pengiriman Agustus merosot 1,12 dolar ke level US$ 62,73 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman Agustus turun 82 sen menjadi US$ 63,23 per barel.
(qom/qom)











































