Padahal, pada perdagangan pra pembukaan (pre opening) pada pukul 09.25 JATS, level IHSG sempat naik drastis sebesar 25 poin. Namun tak lama setelah perdagangan dibuka pukul 09.30 JATS, level IHSG langsung anjlok 20 poin.
Dan selama perdagangan berlangsung hingga pukul 16.00 JATS, level IHSG terus saja mondar-mandir di area positif dan negatif dalam amplitudo tipis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang agak aneh pasar tak respon kemenangan mutlak SBY-Boediono. Padahal kalau dilihat, dengan kemenangan satu putaran, seharusnya memberikan sinyal positif karena penyusunan kabinet akan berlangsung lebih cepat ketimbang pilpres dua putaran," ujar Head of Research PT Recapital, Poltak Hotradero saat dihubungi detikFinance, Kamis (9/7/2009).
Apalagi, Poltak melanjutkan, indeks-indeks regional cenderung mengalami tren positif. "Kelihatannya regional tidak mempengaruhi besar pada pergerakan IHSG hari ini," ujarnya.
Poltak pun belum berani memprediksi arah pergerakan IHSG ke depannya. Menurutnya, perkembangan wacana pilpres selama sepekan ke depan serta situasi ekonomi global akan menentukan arah IHSG ke depan.
"Kita lihat dulu deh selama sepekan ke depan," ujarnya.
Poltak mengatakan, bisa saja pengaruh penurunan harga-harga komoditas berpengaruh pada gerak IHSG. "Kemarin harga minyak ditutup di level US$ 72 per barel, hari ini jatuh ke US$ 60 per barel. Harga-harga komoditas seperti nikel dan timah juga turun," ujarnya.
Selain itu, Poltak juga menilai bahwa nilai price earning ratio (PER) saham-saham di BEI sudah terlampau tinggi. Ia mengatakan, selama lima tahun terakhir posisi PER di BEI sebesar 17 kali.
"Tapi sekarang malah naik menjadi 27 kali, padahal kinerja emiten-emiten di BEI cenderung menurun atau melambat kalau dilihat secara umum. Jadi bisa saja asing melihat kalau harga saham di BEI sudah terlampau mahal," ujarnya.
Menurut Poltak, bukan tidak mungkin kalau investor asing cenderung menyukai portofolio obligasi ketimbang saham lantaran tingginya nilai PER emiten-emiten.
"Kalau melihat tingginya PER di BEI, sepertinya asing cenderung meminati produk-produk obligasi. Tapi kita lihat saja dulu perkembangannya," ujar Poltak.
(dro/qom)











































