"Saat ini obligasi pemerintah masih mendominasi dibanding korporasi. Harapannya, dengan penurunan BI rate hingga 6,75%, banyak perusahaan yang akan menerbitkan obligasi," ujar Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Wan Wei Yiong di kantornya, SCBD, Jakarta, Kamis (9/7/2009).
Sementara Direktur Penilai Perusahaan BEI Eddy Sugito, banyak investor saham yang lari ke obligasi karena saham sedang anjlok sementara obligasi sedang naik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan suku bunga acuan yang makin turun, saran Eddy akan lebih baik membeli obligasi. Meski dari sisi resiko lebih tinggi, tapi dengan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi, tentunya makin menarik bagi investor.
Sejak awal tahun hingga 2 Juli, total emisi obligasi, sukuk, dan efek beragun aset (EBA) baru yang sudah tercatat di BEI mencapai 19 emisi senilai Rp 16,23 triliun. Dari jumlah tersebut, 15 emisi merupakan obligasi senilai Rp 15,05 triliun, tiga emisi sukuk Rp 1,08 triliun, dan satu EBA sebesar Rp 100 miliar.
Sementara itu, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 148 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp 81,38 triliun dan diterbitkan 87 emiten.
Surat berharga negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 76 seri dengan nilai nominal Rp 553,22 triliun. Sedangkan EBA berjumlah satu emisi dengan nilai nominal Rp 91,01 miliar.
Panin Ajukan Obligasi Rp 1,5 Triliun
PT Bank Panin Tbk (PNBN) segera mengajukan rencana penerbitan obligasi senilai Rp 1,5 triliun ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Obligasi PNBN mendapat peringkat AA- dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).
"Rencananya pekan depan pihak otoritas akan menerima pengajuan penerbitan obligasi dari Bank Panin," ungkap Wei.
Ia mengatakan, PNBN telah menunjuk Indopremier Sekuritas, Evergreen Sekuritas Plc, Danareksa Sekuritas dan Bahana Sekuritas sebagai penjamin emisi obligasi.
(dro/qom)











































