Namun Nasdaq masih mampu bergerak positif di tengah perdagangan yagn sangat tipis setelah Goldman Sachs menaikkan proyeksi sektor piranto keras dan lunak AS.
"Sementara kita sudah melihat beberapa perkembangan positif, maka hal yang masih menjadi keprihatinan adalah bahwa kita masih berada di tengah krisis. Kita melihat indikator deflasi, harga komoditas juga kembali turun, pengangguran meningkat," ujar MichaelΒ Cuggino, president dan manajer portofolio Permanen Portfolio Funds seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (11/7/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang pekan ini, Dow Jones tercatat turun 1,6%, S&P 500 juga turun 1,9% dan Nasdaq turun 2,3%.
Saham-saham sektor energi menjadi top loser di S&P 500 seetlah harga minyak mentah dunia kembali surut. Chevron mengeluarkan peringatan bahwa setiap keuntungan dari tingginya harga minyak akan langsung tertutup oleh melemahnya dolar AS selama kuartal II. Saham Chevron tercatat turun 2,7%.
Sementara Goldman Sachs menaikkan target untuk sektor piranti lunak dan keras AS dari 'Netral' ke 'atraktif'. Saham Apple tercatat langsng naik 1,6% dan menjadi pendorong utama kenaikan Nasdaq.
Perdagangan berjalan sangat tipis, di New Yorks Stock Exchange hanya 922,1 juta lembar saham, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebanyak 1,49 miliar. Di Nasdaq, transaksi juga hanya 1,69 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebanyak 2,28 miliar.
Harga Minyak di Bawah US$ 60
Sementara harga minyak mentah dunia akhirnya kembali melorot di bawah level psikologis US$ 60 per barel. Pasar kembali fokus pada melemahnya permintaan di tengah risiko deflasi akibat lesunya perekonomian.
Kontrak utama minyak light pengiriman Agustus turun 52 sen menjadi US$ 59,89 per barel. Kontrak ini bahkan sempat merosot hingga US$ 58,72 per barel. Sementara minyak Bernt pengiriman Agustus turun 58 sen menjadi US$ 60,52 per barel.
(qom/qom)











































