Pekan kemarin, ada dua research report yang menarik menurut saya. Satu, Chinindonesia kreasi dari CLSA yang menggabungkan kekuatan China, India dan Indonesia. Saat ini dunia sudah mengenali Chindia (Bisa di cari di wikipedia) namun Nick Cashmore, Head of Research CLSA menggabungkan Indonesia karena Indonesia adalah kunci pertumbuhan kedua negara tersebut, terutama dalam hal suplai commoditas seperti batubara untuk PLTU di India dan CPO untuk China.
Nick memperkirakan ekonomi Indonesia akan double untuk 6 tahun kedepan. China dan India adalah kunci dari petumbuhan ekonomi dan kedua Negara ini menyediakan hampir semua produk yang di butuh kan dunia dan menjadi market terbesar di dunia. Recomendasi dia untuk pasar domestik yaitu: ASII, TLKM, INTP, BMRI dan PGAS. Sementara untuk komoditas, yaitu: LSIP, UNSP, ADRO, ITMG, dan UNTR.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia melihat rencana USD untuk mendevaluasi mata uangnya untuk membuat export lebih competitive dan menciptakan lapangan pekerjaan bukan hal yang bijak karena komoditas dan minyak akan menahan devaluasi tersebut. Jim Rogers melihat mata uang US Dollar sangat tidak kuat saat ini dan dia memperkirakan krisis mata uang akan terjadi 1-2 tahun kedepan karena significant imbalance dari peredaran mata uang dan semua ini akan di mulai dari mata uang UK pound.
Padangan dia terhadap commoditas adalah, Commoditas sedang pada trend secular bull market dan fortune yang luar biasa untuk investor. Dia melihat trend ini bisa bentahan sampai 20 tahun kedepan. Dia juga sangat bullish pada agriculture dan altervative energy seperti tenaga solar, namun dia tidak mengungkit Gas dan Coal. Menurut saya Gas dan Coal juga menjadi alternative energy yang sangat menarik, mungkin di Negara Jim Rogers tidak begitu kelihatan tambang Coal dan Cadangan Gas.
Guru Says: "Investing without research is like playing stud poker and never looking at the cards."- Peter Lynch.
Dow Jones: Penjualan ritel di US pada bulan Juni kemungkinan naik sedangkan produksi turun, ungkap ekonom sebelum laporan minggu ini keluar. Penjualan anik 0.4% menurut estimasi median pada survey Bloomberg sebelum data departemen perdagangan keluar pada 14 Juli. The Fed kemungkinan akan menunjukkan data hasil industri turun 0.6%. Minggu lalu ideks kepercayaan konsumen turun akaibat kekhawatiran akan pengangguran dan berdampak pada penurunan saham. Indeks S&P 500 ditutup pada level 879.13 atau turun sebesar 0.4% dan Dow ditutup pada posisi 8146.52 atau turun 0.5%. Penjualan mobil untuk bulan lalu turun menjadi 9.7 juta berdasarkan data dari Woodcliff Lake. Penjualan pada Auburn Hills, dari Chrysler Group turun 42% dan General Motors Corp. di Detroit turun 34%.
Regional Pagi: Yen dan dolar melemah akibat spekulasi terhadap ekuiti Jepang dan saham berjangka US akan melemahkan permintaan kedua mata uang tersebut. Yen melemah terhadap 15 mata uang lainnya setelah oposisi partai demkrat Jepang memenangkan pemilihan di Tokyo dan membuat kekhawatiran akan ketidakpasyian politik di Jepang. Yen turun menjadi 129.42 per euro dan menjadi 92.46 per dolar, sedangkan indeks Nikkei naik 0.2%. Nikkei 225 (+0.3%) 9,316.85, Topix Index (+0.3%) 875.40. KOSPI INDEX (-0.71%) 1,418.44. S&P/ASX 200 INDEX (-0.13%) 3,789.00. Straits Times (+0.24%) 2,313.44.
Commodity: Harga minyak naik tipis yang mendekati level delapan bulan terendah dengan spekulasi resesi global akan mengurangi permintaan minyak dan meningkatkan persediaan. Harga minyak untuk pengiriman bulan Agustus US$ 59.99/barel, naik 10 sen di NYMEX. Harga minyak berada pada US$ 59.89 pada 10 Juli, level terendah sejak 19 Mei. Gold (+0.23%) $914.6/oz, Crude Oil (+0.4%) $60.1/barel, Nickel (-3.2%) $14.570/ton, Tin ( -6.7%) $12.320/ton, CPO (-1.2%) 2.030 RMY, Coal (-2.1%) $71.6/ton.
Economic: BEI Bahas Aturan MKBD Baru untuk Broker
BEI tengah mempersiapkan perubahan metode perhitungan modal kerja bersih (MKBD) dan revisi persyaratan transaksi margin broker dengan Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia dan akan membicarakannya pekan ini dan segera meminta persetujuan Bapepam.
Cement: Penjualan 1H09 Turun 9,7% yoy
Asosiasi Semen Indonesia (ASI) mencatat penjualan semen pada 1H09 turun 9,7% yoy dari 19,02 juta ton jadi 17,17 juta ton dipicu tingginya suku bunga kredit dan lambannya penyerapan stimulus infrastruktur pemerintah. Penjualan semen pada Juni09 turun 16% yoy dari 3,6 juta ton jadi 3 juta ton. (investor/fz)
Comment: Konsumsi semen sudah di perkirakan akan turun di tahun 2009 ini dibandingkan tahun 2008. eTrading sendiri memperkirakan konsumsi semen akan terkoreksi 5% YoY F2009 namun akan meningkat 10% YoY pada tahun 2010. Meskipun data 1H09 konsumsi semen terkontraksi lebih tinggi dari perkiraaan full year kita, kita melihat kuartal ke 3 dan ke 4 tahun 2009 akan menjadi kunci peningkatan semen dan akan membentuk kontrasi pertumbuhan yang lebih kecil yaitu 5%. Meskipun banyak belanja Negara yang masih belum terealisasi di awal tahun ini, namun 100 hari awal dari president baru biasanya akan menunjukan kinerja mereka ke masyarakat. Rekomendasi kita SMCB, BUY, TP:1,300, SMGR, BUY, TP:5,400.- dan INTP, HOLD, TP:6,800.-.
Economic: Nilai Aset Newmont U$3,8 M
Pemerintah Indonesia dan Newmont berpotensi menyepakati nilai valuasi aset Newmont sebesar U$3,8 miliar atau Rp38,5 triliun sehingga harga divestasi 14% saham Newmont anjlok jadi U$532 juta dari semula U$774 juta. Sementara itu, Newmont menyatakan belum mengetahui penunjukkan anak usaha BUMI, Multicapital sebagai partner pemda NTB untuk membeli saham divestasi Newmont.
Property: Bank Kembali Pangkas Bunga KPR di Juli
Setelah menurunkan bunga dana simpanan, perbankan kembali memangkas bunga KPR. BBCA menjadi 9.9% (p.a. hingga 2 tahun) sebelumnya 11%-12%, BNLI menjadi 11% sebelumnya 12%-13%. BTN menjadi 7% untuk KPR bersubsidi dan 13% untuk KPR non-subsidi. Penurunan bunga KPR ini akan memicu pertumbuhan bisnis properti.
Banking: NPL Kredit Konsumsi Properti Naik
BI mencatat adanya kenaikan NPL kredit konsumsi di sektor properti per akhir Mei menjadi Rp7.1 tn atau naik 2.89% dari posisi akhir April Rp6.9 tn. Namun kenaikan NPL lebih disumbang oleh segmen properti kelas atas (apartemen, kondominium, kondotel) yang disebabkan oleh kenaikan harga jual akibat naiknya harga bahan bangunan.
Automotive: Pasar Mobil Berangsur Pulih
Pasar mobil nasional pada Juni 2009 menembus 40.636 unit, naik 13,4% mom. Meskipun angka ini menunjukkan penurunan 25,7% yoy, angka penjualan sepanjang Juni merupakan angka tertinggi sepanajng 1H09. Namun, secara akumulatif, realisasi paasr mobil nasional 1H09 hanya menembus 210.193 unit atau turun 28,1% yoy dari 292.670 unit.
Economic: Pewaralaba AS, Australia, Jepang Siap Masuk Ke RI
Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia menyatakan tiga pewaralaba asing meliputi AS pewaralaba yoghurt, Jepang pendidikan informal dan Australia bisnis pizza akan masuk ke Indonesia setelah akhir 2009 atau pemerintahaan baru terbentuk.
Industry: Penjualan Elektronik 1H09 Naik 8%
Penjualan elektornik pada 1H09 naik 8% yoy jadi Rp9,37 triliun seiring pulihnya daya beli masyarakat dan kebijakan pengendaliaan impor. Penjualan Juni09 naik 4% yoy dari Rp1,69 triliun jadi Rp1,76 triliun.
Corporate News
PGAS: Tuntaskan Konversi Piutang Pemerintah
PGAS segera melanjutkan restrukturisasi piutang pemerintah melalui konversi saham (debt to equity swap) senilai Rp27,73 miliar agar meningkatkan jumlah dividen yang bisa diterima dari perseroan. Sebelumnya, pemerintah telah mengonversi piutang sebesar Rp100 miliar jadi 992.724.172 saham (1,88%) sehingga kepemilikan saham pemerinrah di perseroan bertambah jadi 56,46% dari semula 54,58%.
Comment: efek dilusi dari conversi ini diperkirakan tidak akan berpengaruh negative pada saham PGAS, karena sudah difaktor kan oleh investor pada harga sahamnya saat ini. PGAS adalah Top-Pick kita untuk cerita paska pemilu. Recomendasi kita BUY dengan Target 12 bulan paling tinggi dari broker lainnya yaitu Rp4,500.-
TINS: Gelontorkan Rp16,27 M untuk Eksplorasi
Hinga Juni09, TINS telah menggelontorkan dana Rp16,27 miliar untuk membiayai kegiatan eksplorasi perseroan dan anak usahanya.
ANTM: Juni09, Gelontorkan Rp4,8 M untuk Biaya Eksplorasi
Juni09, ANTM telah menggelontorkan dana Rp 4,8 miliar untuk biayai empat jenis komoditas perseroan meliputi Nikel di daerah Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara sebesar Rp1 miliar; Emas di Aceh Tengah-NAD, Tapanuli Utara-Sumatera Utara, Batangasai-Jambi, Pongkor dan Papandayan–Jawa Barat, Ajibarang dan Tirtomoyo-Jawa Tengah, Wowoni dan Ranteangin-Sulawesi Tenggara dan Mao Batuisi-Sulawesi Barat Rp 3,3 miliar; Bauksit di Mempawah, Tayan dan Munggu Pasir, Kalbar Rp 278,7 juta; dan Batubara di Muara Tebo-Jambi Rp 209,5 juta.
HEXA: Optimis, Pendapatan 1H09 Naik 10% yoy , Laba Merosot
HEXA optimis pendapatan 1H09 naik 9,5% yoy dari Rp1,72 triliun jadi Rp1,57 triliun, namun laba bersihnya akan menyusut karena turunnya permintaan alat berat. Naiknya pendapatan berasal dari kontribusi penjualan onderdil dan jasa perawatan alat berat walaupun margin laba bisnis ini tak terlalu besar. Sedangkan penjualan alat berat turun padahal margin keuntungannya besar.
AALI: Raih Fasilitas pinjaman US$ 150 Jt
AALI tengah bernegosiasi dengan lima bank asing yakni Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, OCBC, Natixis, Standard Chartered Bank, dan Sumitomo Mitsui Banking terkait fasilitas pinjaman senilai U$150 juta atau Rp 1,5 triliun untuk modal kerja dan capex FY09. Namun, perseroan belum memutuskan apakah akan menerima fasilitas pinjaman tersebut atau tidak.
MPPA: Akan Tukar Obligasi U$150 Jt
MPPA akan menukar obligasi senilai U4150 juta berjatuh tempo Okto09 dengan obligasi baru berjatuh tempo 2010, terkait refinancing obligasi yang diterbitkan anak usahanya Matahari International B.V yang dijamin perseroan. Namun, rencana ini masih menunggu keputusan RUPO pada 3 Agust09.
RMBA: Tender Offer Terancam Molor
Tender offer saham RMBA terancam mundur dari jadwal yang ditargetkan terealisasi mulai besok (14/7) hingga 12 Agust09. Pasalnya, hingga saat ini Bapepam-LK belum juga mengeluarkan pernyataan efektifnya karena belum lengkapnya dokumen yang diminta Bapepam terhadap BAT. Bapepam mengisyaratan tidak akan menerbitkan pernyataan efektif sebelum ada kejelasan BAT terkait valuasi harga saham serta selisih jumlah saham yang akan ditransaksikan antara Grup Rajawali dan BAT.
BTPN: 2H09, Akan Terbitkan Obligasi Rp700 M
BTPN berencana menerbitkan obligasi sebesar Rp500- Rp700 miliar pada 2H09.
MLPL: Terancam Batal Reverse Stock Split
Rencana MLP untuk menggabungkan nilai sahamnya (reverse stock split) berasio 10:1 terancam batal, jika tidak sesuai dengan kriteria dan syarat BEI seperti kondisi yang mendesak dan membutuhkan aksi korporasi tersebut.
Hingga kini, BEI belum mengabulkan rencana tersebut dan masih memriksa kinerja perseroan.
GPRA: Kurang Modal, Ekspansi Berpotensi Terhambat
Ekspansi bisnis GPRA berpotensi terhambat karena kekurangan dana. Hingga saat ini, perseroan masih mencari dana untuk modal kerjanya. Pengembang properti ini masih kesulitan mencari pendanaan bagi modal kerjanya
Selain itu belum jelasnya rencana penerbitan obligasi karena masih menunggu hasil pemeringkatan obligasi dari Pefindo.
(etr/qom)











































