Pada perdagangan Senin (13/7/2009), rupiah ditutup melemah ke 10.275 per dolar AS, dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di level 10.185 per dolar AS.
Direktur Treasury dan International PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Thomas Arifin mengatakan, nilai tukar rupiah diyakini masih bisa terus menguat dan menembus di bawah 10.000 per dolar AS hingga akhir tahun. Optimisme itu didasari oleh membaiknya kondisi fundamental ekonomi dan politik pasca pilpres.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan rupiah akan terus menguat secara perlahan. "Apalagi saat ini likuiditas perbankan juga sudah memadai yaitu sekitar Rp 26 triliun," jelasnya.
Sementara CIMB-GK Securities dalam catatan risetnya menjelaskan, jika dilihat pergerakan rupiah dalam setahun terakhir atau dari Juli 2008 hingga Juli 2009, terlihat penguatan dolar AS yang terlalu cepat selama periode Oktober hingga November 2008.
"Pelemahan drastis ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal dan bukan faktor internal. Misalnya kasus subprime mortgage, Bearn Sterns, Lehman Brothers dan krisis finansial yang memiliki efek berantai ke seluruh dunia," demikian CIMB-GK Securities.
DIjelaskan pula, level aman rupiah terlihat pada kisaran 10.000-10.500 per dolar AS, Level tersebut juga dinilai paling nyaman untuk eksportir dan importir Indonesia.
"Namun apabila kami menarik garis trend line dari November 2008 hingga kemarin, kami memrediksi rupiah bisa mencapai 9.500-9.700 per dolar AS pada akhir tahun," demikian catatan dari CIMB-GK Securities.
(qom/lih)











































