Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia, Surdiyanto mengatakan, salah satu sebabnya adalah sistem di pasar fisik CPO tersebut masih tertutup.
"Pesertanya memang masih sangat sedikit, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) memang yang masih dominan, karena belum adanya perusahaan yang ikut bergabung dalam pasar fisik tersebut," ujar Surdiyanto kepada detikFinance di Gedung BNI, Jakarta, Selasa (14/07/2009).
Ia mengatakan, PTPN masih menguasai pangsa pasar CPO di Indonesia yang mencapai 14 persen. "Pangsa pasar CPO nasional hanya sebesar 20 persen, jadi masih PTPN penguasanya," jelasnya.
Hingga saat ini, sambung Surdiyanto, skema yang diterapkan di pasar fisik CPO BBJ masih tertutup, yakni masih sebatas lingkup nasional saja.
"Seharusnya pangsa asing juga harus diinformasikan dan disosialisasikan agar mereka mau masuk ke Indonesia," tuturnya.
Namun, Surdiyanto menegaskan sebelum pangsa pasar asing atau internasional masuk ke BBJ, maka skema di pasar tersebut harus dirombak. "Antara lain harus disertakan lembaga penjaminan atau counter party risk agar pangsa asing bisa mendapatkan jaminan terkait risiko yang diterimanya," paparnya.
Ia menjelaskan, saat ini saja karena fluktuasi harga yang tinggi, total transaksi belum mencapai 20 lot perharinya.
"Masih jauh dari yang diharapkan, pasar fisik CPO Indonesia yang diharapkan bisa dijadikan acuan harga referensi sangat sulit," tuturnya.
Sementara itu, ditempat yang sama, Kepala Biro Perniagaan Bappebti, Made Sukarwo menegaskan bahwa memang pasar fisik CPO BBJ belum seperti yang diharapkan. "Bahkan total volume transaksinya perhari hanya mencapai 7 lot," pungkasnya.
(dru/dro)











































