Bom di 2 hotel mewah tersebut dirasa sangat mengejutkan investor, setelah sekian lama kondisi keamanan di Indonesia cukup tenang. Belum adanya keterangan resmi soal peristiwa ledakan itu membuat investor kembali gamang.
Pada perdagangan Jumat (17/7/2009) sesi I, IHSG ditutup merosot hingga 25,869 poin (1,22%) ke level 2.092,081. IHSG sempat berada di titik tertingginya di 2.126,507 dan titik terendah di 2.060,617. Investor meneruskan profit taking yang sudah berlangsung sejak perdagangan kemarin.
"Market mungkin akan terkoreksi tipis, sambil menunggu klarifikasi dari Kepolisian soal penyebab ledakan," ujar Head of Research PT Recapital, Poltak Hotradero.
Penurunan IHSG terjadi di tengah penguatan bursa-bursa regional. Indeks Nikkei-225 menutup sesi pagi dengan penguatan tipis 39,34 poin (0,42%) ke level 9.383,50. Indeks Hang Seng dibuka menguat 151,43 poin (0,82%) ke level 18.513,30.
Sementara rupiah sudah membaik ke 10.135 per dolar AS. Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono menyatakan, BI memang akan selalu menjaga volatilitas rupiah termasuk dari dampak peristiwa bom kali ini.
Perdagangan berjalan cukup ramai, dengan frekuensi transaksi sebanyak 56.070 kali pada volume 3.136 juta lembar saham senilai Rp 2,223 triliun. Sebanyak 25 saham naik, 169 saham turun dan 29 saham stagnan.
Saham-saham yang mencatat penurunan harga di top loser antara lain Astra International (ASII) turun Rp 250 menjadi Rp 27.250, PGN (PGAS) turun Rp 100 menjadi Rp 3.275, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 100 menjadi Rp 3275, BRI (BBRI) turun Rp 150 menjadi Rp 6.800, United Tractor (UNTR) turun Rp 250 menjadi Rp 10.550, Semen Gresik (SMGR) turun Rp 200 menjadi Rp 5.400.
Sedangkan saham-saham yang mencetak harga di top gainer antara lain Telkom (TLKM) naik Rp 150 menjadi Rp 8.000, International Nickel (INCO) naik Rp 50 menjadi Rp 3.850, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 50 menjadi Rp 14.050, Unilever (UNVR) naik Rp 600 menjadi Rp 11.200. (qom/dnl)











































