"RUPO kedua akan dilaksanakan pada 21 Juli 2009 untuk mengambil keputusan final sehubungan dengan penerbitan Exchange Offer ," ujar Direktur GJTL, Catharina Widjaja dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia seperti dikutip detikFinance , Minggu (19/7/2009).
Pada tahun 2005, GJTL menerbitkan obligasi senilai US$ 420 juta dengan kupon bunga sebesar 10,25%. Obligasi ini jatuh tempo pada 2010. GJTL saat ini sedang mengalami kesulitan membayar kupon bunga sebesar US$ 21,5 juta yang harus dibayarkan pada 21 Juli 2009.
Akibat kesulitan membayar bunga obligasi, pada 12 Juni 2009 GJTL menawarkan obligasi baru senilai US$ 441,5 juta yang masa jatuh temponya diperpanjang hingga 2014. Obligasi baru tersebut rencananya ditukar (Exchange Offer ) dengan obligasi lama senilai US$ 420 juta.
Pada 6 Juli 2009, GJTL telah menggelar RUPO untuk meminta persetujuan pemegang obligasi soal penukaran obligasi tersebut. "Namun keputusan final belum diperoleh dari RUPO tersebut," ujar Catharina.
Oleh sebab itu, perseroan berencana menggelar RUPO kedua pada 21 Juli, bersamaan dengan jatuh tempo kewajiban membayar bunga sebesar US$ 21,5 juta. Jika RUPO kedua 21 Juli belum juga memperoleh persetujuan, maka akan obligasi tahun 2005 GJTL senilai US$ 420 juta terancam gagal bayar (default ).
Sebelumnya, Standard & Poor's telah menurunkan peringkat perseroan menjadi CC dari semula CCC+ dan memberikan outlook negatif.
(dro/dro)










































