Shock IHSG-Rupiah Hanya Sesaat

Shock IHSG-Rupiah Hanya Sesaat

- detikFinance
Senin, 20 Jul 2009 15:20 WIB
Shock IHSG-Rupiah Hanya Sesaat
Jakarta - Data-data menunjukkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah semakin 'terisolir' dari dampak serangan terorisme. Shock sesaat memang mengena, namun pemulihan IHSG dan rupiah bisa terjadi secepatnya.

Termasuk dalam serangan 2 bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton pada Jumat, 17 Juli 2009 lalu. IHSG dan rupiah memang sempat mengalami shock, IHSG sempat terperosok hingga 55 poin sementara rupiah melorot ke 10.250 per dolar AS.

Namun saat penutupan, IHSG sedikit pulih dengan pelemahan hanya 11 poin. IHSG bahkan sempat menyentuh teritori positif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Citi Investment Research and Analysis mencatat, pemulihan IHSG dan nilai tukar rupiah memang semakin cepat terjadi saat terjadinya serangan bom. Dalam 5 kali kejadian bom yakni bom Bali I, bom JW Marriot, bom Kedubes Australia, bom Bali II dan bom JW Marriott-Ritz Carlton, data-data tersebut terlihat.

Dalam peristiwa Bom Bali I, IHSG butuh waktu 24 hari sebelum bisa  mencapai level yang sama sebelum kejadian, sementara rupiah butuh waktu pulih selama 38 hari.

Saat Bom Marriot tahun 2003, IHSG hanya butuh waktu pemulihan 3 hari, sementara rupiah butuh 14 hari. Ketika bom Kedubes Australia, IHSG hanya buruh waktu pemulihan selama 2 hari.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya menyatakan, IHSG diperkirakan bisa pulih 3 hari sesaat setelah serangan teroris. Optimisme Menkeu itu didasari oleh pengalaman serangan terorisme sebelumnya.

"Mengingat Indonesia tidak mengalami serangan teroris untuk beberapa saat, pasar sedikit lebih tidak nyaman dari episode sebelumnya. Meskipun reaksinya sedikit kurang ekstrim dibandingkan dengan bom Bali I Oktober 2002 dan bom Marriott tahun 2003," demikian ahli ekonomi Citi Group, Johanna Chua yang dikutip detikFinance, Senin (20/7/2009).

Sektor pariwisata dan ritel umum serta biro perjalanan kemungkinan akan terkena dampak dari bom yang mengguncang 2 hotel mewah tersebut. Namun Citi Group memperkirakan dampaknya hanya sementara.

"Ancaman terorisma di Indonesia tidak ada yang baru dan kami pikir ini tidak akan berdampak secara keseluruhan pada investasi asing, yang akhir-akhir ini terpacu oleh hasil pemilu," jelasnya.

Dengan melihat semua hal tersebut, Citi Group tidak melakukan perubahan signifikan atas proyeksi inflasi dan kebijakan moneter. Berikut catatan Citi Investment Research and Analysis untuk pergerakan IHSG dan rupiah selama terjadinya peristiwa bom.
PeristiwaIHSG Hari IRupiah Hari IIHSG Hari IIRupiah Hari II
Bom Bali I (12/10/2002)-10,36%-3,7%1,40%0,6%
Bom JW Marriot (5/8/2003)-3,06%-1,5%1,21%0,3%
Bom Kedubes Australia (9/9/2004)-0,82%0,0%1,93%0,1%
Bom Bali II (1/10/2005)0,38%0,0%1,64%1%
Bom Ritz-Marriot (17/7/2009)-1,20%-1%--
(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads