Pada perdagangan Selasa (21/7/2009), nilai tukar rupiah ditutup menguat ke 10.055 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 10.135 per dolar AS.
"Mengingat pasar saham dan obligasi masih menarik, kami perkirakan aliran modal akan terus masuk dan memperkuat nilai tukar rupiah," ujar Ekonom BII, Samuel Ringoringo dalam review mingguannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi dengan catatan ketidakpastian pada investigasi ledakan bom dan aksi profit taking akan menghambat nilai tukar rupiah menguat lebih lanjut," imbuhnya.
Sementara di pasar global, dolar AS diperdagangkan cukup beragam setelah Federal Reserve memberikan sinyal bahwa mereka akan mengakhiri kebijakan menggelontorkan likuiditas ke pasar.
Seperti dikutip dari AFP, dolar AS melemah ke 93,94 yen, dari sebelumnya di 94,21 yen. Sementara euro melemah ke 1,4206 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,4233 dolar.
Para pialang menduga-duga pidato Gubernur Bank Sentral AS, Ben Bernanke yang mengindikasikan untuk keluar dari langkah pemberian kredit darurat, namun tidak akan terburu-buru untuk memperketat kebijakan moneter.
(qom/lih)










































