Pemegang Saham Merger, Adaro Bisa Bebas Pajak Dividen

Pemegang Saham Merger, Adaro Bisa Bebas Pajak Dividen

- detikFinance
Jumat, 24 Jul 2009 11:14 WIB
Pemegang Saham Merger, Adaro Bisa Bebas Pajak Dividen
Jakarta - Merger antar 5 pemegang saham PT Adaro Energy Tbk berimplikasi pada pengurangan kewajiban pajak dividen. Strategi itu juga dianggap sebagai cara yang positif untuk fokus pada strategi perusahaan.

"Kami berpendapat langkah tersebut untuk mengurangi beban pajak karena aturan bahwa holding dan operating company yang memiliki lebih dari 25 persen dividend withholding tax," jelas Bernard Thien, President Director PT CIMB-GK Securities Indonesia dalam reviewnya yang dikutip detikFinance, Jumat (24/7/2009).

Lima pemegang saham utama PT Adaro Energy Tbk (ADRO) berencana menggabungkan (merger) kepemilikan sahamnya di bawah satu payung PT Adaro Strategic Investments (ASI). Transaksi ini menelan dana sebesar Rp 15,73 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kelima pemegang saham tersebut adalah Teedy Rachmat melalui PT Triputra Investindo Arya, Benny Subianto melalui PT Persada Capital Investama, Garibaldi Thohir melalui kepemilikan pribadi dan PT Trinugraha Thohir, serta Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Salahudin Uno melalui PT Saratoga Capital.

Setelah merger, ASI akan menguasai 43,91% saham ADRO. Lima entitas yang saat ini mengendalikan ADRO akan menghilang dari daftar pemegang saham.

"Kami percaya strategi tersebut dipandang secara positif, membantu corporate governance dan menyatukan pemegang saham kunci sehingga lebih fokus pada strategi perusahaan," ujar Bernard.

CIMB-GK Securities Indonesia menambahkan, merger tersebut akan mengurangi kekhawatiran tiap pemegang saham menjual sahamnya sendiri-sendiri. Dengan cara membuat holding semacam ASI, apabila terjadi merger atau akuisisi, harus dihargai secara premium. Selain itu, apabila ADRO melihat potensi akuisisi, maka holding tersebut bisa dibuat sebagai platform untuk meningkatkan kepemilikan.

"Kami mempertahankan rating Adaro Energy (ADRO) pada OUTPERFORM dengan target harga tetap di Rp 2000 berdasarkan metode DCF (WACC 13%, LTG 0%)," jelas Bernard.

Pada perdagangan Jumat pukul 11.00 waktu JATS, saham Adaro tercatat naik Rp 20 menjadi Rp 1.220.
(qom/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads