Pada perdagangan Senin (27/7/2009), rupiah ditutup menguat lagi ke 9.960 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.995 per dolar AS.
Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono sebelumnya mengatakan, penguatan rupiah kali ini terjadi karena kombinasi membaiknya perekonomian global dan Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hartadi mengatakan kebijakan makro ekonomi yang diterapkan oleh pemerintah sampai saat ini direspons cukup baik oleh para investor asing sehingga minat investasi mereka di Indonesia masih cukup tinggi.
Kepala Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan dalam laporan 'Indonesia Economic Outlook' menjelaskan, dolar AS kini memang berada dalam tren pelemahan.
"Dolar berada dalam tren melemah, meski ada penyesuaian selama Juni 2009. Hingga akhir tahun, kami perkirakan dolar akan terus melemah atas mayoritas mata uang, termasuk dolar AS," ujarnya.
Neraca berjalan diprediksi mencetak surplus pada tahun ini. Sementara cadangan devisa diperkirakan mencapai US$ 62,5 miliar.
"Berdasarkan hal itu, rupiah diperkirakan menguat di bawah 10.000 per dolar AS yakni sampai ke 9.800 per dolar AS. Kami tidak berpikir rupiah bisa di bawah itu," tambah Anton.
Alasannya, lanjut dia, impor kemungkinan akan mulai meningkat lagi sejalan dengan pulihnya aktivitas ekonomi. Sementara aliran modal ke pasar obligasi kemungkinan akan surut karena BI akan mengakhiri kebijakan penurunan suku bunganya.
(qom/qom)











































