Risiko RI Terus Turun, Aliran Modal Makin Kuat Masuk

Risiko RI Terus Turun, Aliran Modal Makin Kuat Masuk

- detikFinance
Selasa, 28 Jul 2009 10:12 WIB
Risiko RI Terus Turun, Aliran Modal Makin Kuat Masuk
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terus bergerak menguat. Hal itu dipicu oleh aliran modal yang tetap kuat didukung oleh sentimen positif, meski sempat ternoda oleh ledakan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton pada Jumat, 17 Juli lalu.

"Aliran modal asing masih tetap kuat, dan penilaian kami didukung oleh sentimen positif," jelas Bernard Thien, President Director PT CIMB-GK Securities Indonesia dalam rekomendasi hariannya, Selasa (28/7/2009).

IHSG pada perdagangan hari ini masih melanjutkan penguatannya meski tipis saja. IHSG pada pukul 09.50 waktu JATS tercatat menguat 5,330 poin (0,24%) ke level 2.214,431. Sementara nilai tukar rupiah masih menguat di level 9.960 per dolar AS.

Bernard menambahkan, investor lokal kini masih mendominasi transaksi harian yakni hampir 80%. Investor broking atau online trading melalui internet sangat kuat, terus mengambil pangsa pasar trading volume bahkan pada kondisi volume market yang menurun.

CIMB-GK Securities mencatat, aliran modal selama Juni 2009 mencatat kenaikan setelah melambat pada April-Mei untuk Indonesia dan Emerging Asia.

"Indonesia menerima lebih banyak flow relative terhadap aggregate holdings , sekitar 6,43% atau lebih dari 3 kali libat dibandingkan Emerging Asia. Ini merupakan level tertinggi sejak Mei 2008," jelas Bernard.

Selain itu, investor asing selama Juni 2009 tercatat lebih menyukai tema domestik. Terjadi pula perputaran pembelian dari komoditas mulai ke sektor defensif seperti Telkom (TLKM), PGN (PGAS) dan Unilever (UNVR) serta cyclicals (ASII, UNTR dan INTP).

"Berdasarkan track dari trading kami, aliran modal asing negatif pada minggu kedua sebelum ledakan bom 17 Juli, namun kemudian rebound . Data pada 24 Juli mencatat net outflow ," tambah Bernard.

Namun semenjak bom, IHSG telah menguat tajam, sementara rupiah tembus di bawah 10.000 per dolar AS. Yield obligasi negara berjangka 10 tahun juga telah mencapai 10,14%, terendah dalam 12 bulan, CDS 5 tahun juga turun ke 239 bp, terendah sejak juli 2008.

"Pasar pada umumnya telah re-rating karena risiko turun dengan drastis. Bulan Juli akan menjadi bulan yang baik, konsisten seperti bulan Juli dalam 6 bulan terakhir, namun bulan Agustus biasanya merupakan bulan yang buruk," demikian Bernard dalam ulasannya. (/lih)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads