Pada perdagangan Rabu (29/7/2009) sesi I, Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menjadi faktor penentu penggerak IHSG. Saham BUMI menutup sesi I dengan penguatan Rp 25 menjadi Rp 2.275, dengan nilai perdagangan di seluruh pasar mencapai Rp 642 miliar atau sekitar 30% dari nilai perdagangan di seluruh pasar BEI hari ini.
Saham BUMI dalam setahun terakhir memang sangat berfluktuatif seiring berbagai 'kejutan-kejutan' aksi korporasinya. Masalah terakhir adalah akuisisi 3 perusahaan yang dinilai kemahalan. BUMI akhirnya memilih untuk merevisi pembelian PT Fajar Bumi Sakti setelah hasil penilaian dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) menyatakan nilai transaksinya lebih tinggi Rp 370 miliar dari harga pasar yang wajar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan sejak awal pekan ini, saham BUMI bergerak sangat lincah dan menjadi perburuan investor. President Director PT CIMB-GK Securities Indonesia, Bernard Thien menyatakan BUMI berniat membayarkan dividen pada 18 Agustus 2009 sebesar Rp 50,60 per lembar dengan cum dividen pada 29 Juli 2009, atau berarti hari ini adalah kesempatan terakhir membeli BUMI untuk mendapatkan dividen.
"BUMI telah membagikan dividen 6 kali sejak tahun 2005 dan biasanya antara Juni dan Agustus tiap tahun, termasuk dividen spesial pada tahun 2007," ujar Bernard dalam rekomendasi hariannya.
Dari 6 kali pembagian dividen sejak tahun 2005, saham BUMI hampir selalu berakhir positif pada tanggal ex-dividen. Hanya 1 kali pada Juni 2006 harga closing pada ex-date sama seperti harga pada ex-date teoris. Rata-rata dividend yield pada ex-date dari 6 tanggal tersebut adalah +1.2%. Karena itu kami melihat potensi gain dari dividend play ini, meskipun imbal hasilnya tidak terlalu besar (kurang dari 5%).
"CIMB-GK saat ini memberi rating OUTPERFORM untuk Bumi Resources (BUMI) dengan target harga Rp3500 menggunakan metode DCF (WACC 16%, LTG 0%). BUMI tetap menarik ditengah kondisi naiknya harga batubara karena sensitivitas yang tinggi terhadap kenaikan harga. Namun masalah tata kelola membatasi premium terhadap saham lain di sektornya," urai Bernard.
(qom/qom)











































