Kekhawatiran tentang langkah China tersebut sebelumnya telah menjatuhkan harga-harga komoditas sehingga menghantam pula saham-saham sektor energi dan bahan baku.
"China selama ini telah menjadi pendorong terbesar bagi sebagian upaya pemulihan ekonomi global. Stimulus mereka langsung dan cepat," ujar Bobby Harrington, managing director UBS di Boston seperti dikutip dari Reuters, Kamis (30/7/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, dua bank komersial terbesar China telah memangkas target kredit tahun 2009. Langkah itu secara signifikan akan memperlambat seluruh pertumbuhan kredit China pada semester II-2009.
Indeks Shanghai bahkan kemarin mencatat penurunan hingga 5%, atau penurunan terbesar harian dalam 8 bulan terakhir.
Sementara pada perdagangan Rabu (29/7/2009), indeks Dow Jones industrial average ditutup melemah 26 poin (0,29%) ke level 9.070,72. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 4,47 poin (0,46%) ke level 975,15 dan Nasdaq melemah 7,75 poin (0,39%) ke level 1.967,76.
Sentimen negatif lainnya adalah data yang dirilis Departemen Perdagangan AS, terkait permintaan barang-barang tahan lama yang turun 2,5% selama Juni. Ini adalah penurunan terbesar sejak Januari, dan pada Mei sempat naik 1,3%.
Saham Yahoo Inc tercatat merosot hingga 12,1% dan menjadi salah satu penurun Nasdaq. Penurunan saham Yahoo terjadi setelah perusahaan media internet itu mengumumkan kesepakatan iklan dengan Microsoft Corp. Sementara saham Microsoft justru naik 1,4%.
Volume perdagangan masih tipis, di New York Stock Exchange hanya sebesar 1,25 miliar lembar saham atau di bawah rata-rata tahun lalu yang sebanyak 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 2,11 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu sebanyak 2,28 miliar.
Minyak Melorot
Sementara harga minyak mentah dunia kembali melorot seiring munculnya kekhawatiran anjloknya permintaan.
Kontrak utama minyak light pengiriman September anjlok hingga 3,88 dolar atau hampir 6% menjadi US$ 63,35 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman September juga merosot 3,35 dolar menjadi US 66,53 per barel.
(qom/qom)











































