Dari jumlah tersebut sekitar Rp 1 triliun berbentuk obligasi konvensional dan sekitar Rp 300 miliar berupa obligasi syariah atau sukuk.
"Obligasi tersebut dilakukan untuk memperkuat struktur keuangan perusahaan serta mendanai proyek NPK Fuse Blending sebesar Rp 300 miliar yang sudah dalam tahap pengerjaan," ujar Direktur Utama PKT, Hidayat Nyakman kepada wartawan di kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (05/06/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Obligasi dengan tenor selama 5 tahun ini, lanjut Hidayat, menjadi pilihan berdasarkan kajian keuangan, obligasi ini merupakan alternatif yang menguntungkan.
"Di sisi lain penerbitan obligasi tidak terikat Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) sebagaimana halnya pinjaman bank," tuturnya.
Hidayat juga mengatakan bahwa untuk kisaran yield kupon obligasi tersebut yakni FR0051 untuk obligasi yang senilai Rp 1 triliun dan spread-nya sesuai rating.
Untuk underwriternya, sambung Hidayat, PKT telah menunjuk PT Danareksa. "Harapannya pada Oktober 2009 uangnya sudah bisa dikucurkan," tuturnya.
Untuk diketahui, sebagai bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan pupuk urea dalam negeri, PKT juga mengamankan stok urea bersubsidi di wilayah tanggung jawabnya yang meliputi dua pertiga wilayah Indonesia.
Saat ini stok urea di Bontang dan gudang-gudang kabupaten di wilayah distribusi PKT tercatat sebanyak 595.007 ton dimana hal tersebut juga menimbulkan konsekuensi modal kerja yang tertanam tidak sedikit yaitu sekitar Rp 1 triliun yang cukup mengganggu cash flow perusahaan.
Realisasi distribusi pupuk bersubsidi hingga akhir Juli 2009 adalah 905.017 ton. Penyerapan ini masih di bawah SK Menteri Pertanian sampai dengan bulan Juli sebesar 1.045.114 ton atau relaisasi penyerapan hanya 87 persen dari kewajiban yang ditugaskan pemerintah.
"Ini berarti pupuk Kaltim masih memiliki kelebihan stok pupuk urea yang cukup besar. Total kewajiban distribusi Pupuk Kaltim tahun 2009 adalah 1.916.413 ton," paparnya.
Pupuk Kaltim saat ini juga tengah mengembangkan sejumlah proyek, antara lain pembangunan Kaltim-5 sebagai replacement Kaltim-1 yang sudah mulai tua dan kurang efisien penggunaan bahan bakunya.
(dru/lih)











































