Pada perdagangan Senin (10/8/2009), rupiah ditutup menguat ke 9.930 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.960 per dolar AS.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2009 adalah sebesar 4% (yoy) atau melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2009 yang sebesar 4,4%. Meski melambat, namun angka itu lebih baik dari ekspektasi analis dan juga BI yang hanya memperkirakan perekonomian tumbuh 3,8%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekonom BII Samuel Ringoringo mengatakan, rupiah diprediksi akan menguat di kisaran 9.880-9.980 per dolar AS. Menurutnya, pelaku pasar berharap rupiah akan terus menguat sehingga mata uang itu akan menguat sebelum mereka akan membeli dolar untuk membayar kewajibannya seperti untuk impor atau bayar utang.
"Perilaku ini akan membawa rupiah berada pada kisaran itu. Selanjutnya gejolak rupiah akan berkurang karena faktor fundamental seperti dukungan neraca berjalan. Daya tarik pasar modal kita juga akan memberikan tambahan dukungan," ujar Samuel dalam risetnya.
Sementara di pasar Asia, dolar AS tercatat kembali melemah oleh profit taking. Dolar AS pada akhir pekan lalu sempat menguat merespons data pengangguran AS yang membaik melebihi ekspektasi.
Dolar AS melemah ke 97,23 yen, dibandingkan sebelumnya di 97,51 yen. Sementara euro menguat ke 1,4203 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,4173 dolar dan 138,07 yen dibandingkan sebelumnya di 138,37 yen.
(qom/qom)











































