Saham-saham sektor material mendapatkan tekanan, dimana indeks S&P material tercatat turun 1,6% akibat menguatnya dolar AS. Penguatan dolar AS mengurangi minat investor untuk berburu komoditas.
"Sejumlah perusahaan-perusahaan sumber daya alam mungkin sudah terlalu panjang. Kita melihat penarikan lagi dari saham-saham yang berbasis komoditas," ujar Joe Arsenio, presiden Arsenio Capital Management seperti dikutip dari Reuters, Selasa (11/8/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada perdagangan Senin (10/8/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup melemah 32,12 poin (0,34%) ke level 9.337,95. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 3,38 poin (0,33% ke level 1.007,10 dan Nasdaq melemah 8,01 poin (0,40%) ke level 1.992,24.
Di Nasdaq, saham Research in Motion menjadi salah satu pemicu penurunan. Saham produsen BlackBerry itu merosot 4,9% setelah UBS menurunkan peringkatnya dari 'beli' menjadi 'netral' setelah Verizon Wireless, yang merupakan salah satu konsumen terbesar RIM kemungkinan akan meluncurkan iPhone.
Volume perdagangan masih cukup rendah, di New York Stock Exchange hanya sebesar 1,09 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu sebanyak 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 1,86 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang mencapai 2,28 miliar.
Harga Minyak Nyangkut di US$ 70
Sementara harga minyak mentah dunia kembali turun meski masih bertahan di level US$ 70 per barel. Kekhawatiran naiknya suplai dan penguatan dolar AS menjadi salah satu pemicu turunnya harga minyak.
Kontrak utama minyak light sweet pengiriman September turun 33 sen menjadi US$ 70,60 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman September turun 9 sen menjadi US$ 73,50 per barel.
(qom/qom)











































