Berdasarkan data PT Ficomindo Buana Registar, biro administrasi efek (BAE) yang mencatat perubahan-perubahan dalam komposisi pemegang saham BUMI, ternyata terhitung sejak 30 Desember 2008, BUMI sudah tidak memiliki pemegang saham di atas 5%. Artinya, total saham BUMI sebanyak 19,404 miliar saham kini dimiliki secara merata oleh publik.
BNBR, perusahaan holding investasi yang disebut-sebut sebagai induk usaha BUMI pun sudah tidak lagi tercatat dalam daftar pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5%. BNBR terakhir tercatat dalam daftar tersebut pada November 2008. Ketika itu, posisi terakhir kepemilikan BNBR di BUMI sebesar 7,14%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 31 Oktober 2008, pemegang saham domestik BUMI tercatat sebanyak 28.481 investor terdiri atas investor individual sebanyak 27.514 investor dan sisanya perseroan terbatas serta badan-badan lainnya. Pada tanggal yang sama, jumlah investor asing di BUMI tercatat sebanyak 1.106 investor terdiri dari 188 investor individual dan 918 investor perusahaan.
Pada 31 Oktober 2008, porsi penguasaan investor lokal di saham BUMI sebesar 36,81%, sedangkan investor asing 63,1%. Per 31 Juli 2009, kepemilikan asing di BUMI menurun tajam. Porsi penguasaan investor lokal mencapai 43,63%, sedangkan investor asing 56,37%. Bersamaan dengan itu, jumlah investor lokal di saham BUMI meningkat drastis menjadi sebanyak 36.237 investor, terdiri atas 35.366 investor individual dan sisanya investor perusahaan.
Jumlah investor lokal di saham BUMI meningkat drastis, bertambah hampir 8.000 investor. Penambahan jumlah investor lokal individual BUMI terjadi pada Januari 2009. Secara mendadak, jumlah investor individual BUMI bertambah menjadi 36.548 investor pada 30 Januari 2009, meningkat hampir 8.000 investor dari posisi bulan sebelumnya.
Bersamaan dengan itu, BUMI mencapai harga terendahnya di bulan yang sama. Pada 15 Januari 2009, BUMI sempat menyentuh level terendah Rp 385 sebelum ditutup di Rp 425. Secara mengejutkan, terhitung 16 Januari 2009, saham BUMI kembali merangkak naik secara berkala hingga saat ini kembali menyentuh level Rp 3.000 an per saham.
Apakah peningkatan jumlah investor lokal individual secara drastis ini menjadi penyebab kenaikan saham BUMI secara berkala selama 6 bulan terakhir? Sulit mendeteksi kebenarannya. Namun kabarnya, menghilangnya kepemilikan saham BNBR dengan peningkatan jumlah investor lokal individual BUMI berkaitan erat.
Sumber detikFinance mengatakan, pucuk pimpinan grup Bakrie memang mengubah strategi investasinya, yakni dengan mengalihkan seluruh kepemilikan saham BNBR di BUMI tidak lagi dalam satu payung perusahaan, melainkan dipecah melalui ribuan rekening sekuritas.
Hingga saat ini, manajemen grup Bakrie belum bersedia memberikan keterangan mengenai hal ini.Β SVP Investor Relations BUMI, Dileep Srivastava dan Dirut BUMI Ari Hudaya tidak menjawab panggilan telepon dari detikFinance.
Namun menurut analis PT BNI Securities Muhammad Alfatih, menghilangnya seluruh pemegang saham BUMI di atas 5% justru akan memberikan dampak positif bagi kinerja saham perusahaan tersebut.
"Secara umum, kalau porsi saham publik semakin besar ketimbang pemegang saham terafiliasi, maka akan lebih membuat pergerakan sahamnya alamiah," ujarnya saat dihubungi detikFinance, Rabu (12/8/2009).
Menurut Alfatih, masih banyak perusahaan-perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang masih dikuasai oleh pemegang saham terafiliasi. Padahal, semakin besar kepemilikan saham publik dinilai semakin bagus untuk kinerja saham perusahaan tersebut.
"Contohnya seperti kriteria yang ditetapkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), saham-saham yang masuk dalam daftar MSCI salah satu syaratnya adalah porsi saham publik yang besar," ujarnya.
Ia mengatakan, dengan semakin besarnya porsi saham publik, cenderung meminimalisir potensi pembentukan harga oleh pihak-pihak tertentu. "Kalau porsi saham publiknya besar, pergerakannya akan ditentukan sepenuhnya oleh publik. Jadi lebih alamiah," ujarnya. (dro/qom)











































