BUMI Harus Laporkan Perubahan Kepemilikan ke BEI

BUMI Harus Laporkan Perubahan Kepemilikan ke BEI

- detikFinance
Rabu, 12 Agu 2009 18:22 WIB
BUMI Harus Laporkan Perubahan Kepemilikan ke BEI
Jakarta - Hilangnya kepemilikan saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dari daftar pemegang saham di atas 5% PT Bumi Resources Tbk (BUMI) harus dilaporkan ke Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Menurut peraturan bursa, setiap perubahan saham di atas 5% seharusnya dilaporkan ke BEI," ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Eddy Sugito di gedung BEI, SCBD, Jakarta, Rabu (12/8/2009).

Kendati demikian, Eddy mengaku belum mengetahui detail perubahan tersebut. "Nanti akan saya cek lagi apakah laporannya sudah masuk atau belum," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan data PT Ficomindo Buana Registar, biro administrasi efek (BAE) yang mencatat perubahan-perubahan dalam komposisi pemegang saham BUMI, ternyata terhitung sejak 30 Desember 2008, BUMI sudah tidak memiliki pemegang saham di atas 5%. Artinya, total saham BUMI sebanyak 19,404 miliar saham kini dimiliki secara merata oleh publik.

BNBR, perusahaan holding investasi yang disebut-sebut sebagai induk usaha BUMI itu pun sudah tidak lagi tercatat dalam daftar pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5%. BNBR terakhir tercatat dalam daftar tersebut pada November 2008. Ketika itu, posisi terakhir kepemilikan BNBR di BUMI sebesar 7,14%.

Seiring dengan menghilangnya seluruh pemegang saham BUMI di atas 5%, secara mengejutkan terjadi peningkatan drastis jumlah investor individual domestik di saham BUMI terhitung Januari 2009.

Pada 31 Oktober 2008, pemegang saham domestik BUMI tercatat sebanyak 28.481 investor terdiri atas investor individual sebanyak 27.514 investor dan sisanya perseroan terbatas serta badan-badan lainnya. Pada tanggal yang sama, jumlah investor asing di BUMI tercatat sebanyak 1.106 investor terdiri dari 188
investor individual dan 918 investor perusahaan.

Pada 31 Oktober 2008, porsi penguasaan investor lokal di saham BUMI sebesar 36,81%, sedangkan investor asing 63,1%. Per 31 Juli 2009, kepemilikan asing di BUMI menurun tajam. Porsi penguasaan investor lokal mencapai 43,63%, sedangkan investor asing 56,37%. Bersamaan dengan itu, jumlah investor lokal di saham BUMI meningkat drastis menjadi sebanyak 36.237 investor, terdiri atas 35.366 investor individual dan sisanya investor perusahaan.

Jumlah investor lokal di saham BUMI meningkat drastis, bertambah hampir 8.000 investor. Penambahan jumlah investor lokal individual BUMI terjadi pada Januari 2009. Secara mendadak, jumlah investor individual BUMI bertambah menjadi 36.548 investor pada 30 Januari 2009, meningkat hampir 8.000 investor dari posisi bulan sebelumnya.

Bersamaan dengan itu, BUMI mencapai harga terendahnya di bulan yang sama. Pada 15 Januari 2009, BUMI sempat menyentuh level terendah Rp 385 sebelum ditutup di Rp 425. Secara mengejutkan, terhitung 16 Januari 2009, saham BUMI kembali merangkak naik secara berkala hingga saat ini kembali menyentuh level Rp 3.000-an per saham.

Apakah peningkatan jumlah investor lokal individual secara drastis ini menjadi penyebab kenaikan saham BUMI secara berkala selama 6 bulan terakhir? Sulit mendeteksi kebenarannya. Namun kabarnya, menghilangnya kepemilikan saham BNBR dengan peningkatan jumlah investor lokal individual BUMI berkaitan erat.

Sumber detikFinance mengatakan, pucuk pimpinan grup Bakrie memang mengubah strategi investasinya, yakni dengan mengalihkan seluruh kepemilikan saham BNBR di BUMI tidak lagi dalam satu payung perusahaan, melainkan dipecah melalui ribuan rekening sekuritas.

Hingga saat ini, manajemen grup Bakrie belum bersedia memberikan keterangan mengenai hal ini.Β  SVP Investor Relations BUMI, Dileep Srivastava dan Dirut BUMI Ari Hudaya tidak menjawab panggilan telepon dari detikFinance.

Jika BNBR menghilang dari daftar kepemilikan saham BUMI, maka berarti BUMI tak lagi memiliki pemegang saham pengendali. Namun Eddy menilai BUMI kini masih memiliki pemegang saham pengendali.

"Saya rasa mereka masih memiliki pengendali saham. Kan kemarin-kemarin ada banyak kasus repo," ujar Eddy tanpa menjelaskan lebih lanjut.


(dro/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads