Rupiah Tenang di Akhir Pekan

Rupiah Tenang di Akhir Pekan

- detikFinance
Jumat, 14 Agu 2009 16:36 WIB
Rupiah Tenang di Akhir Pekan
Jakarta - Nilai tukar rupiah bergerak tenang di akhir pekan ini. Pelaku pasar masih merasa nyaman dengan posisi rupiah saat ini sehingga memilih tidak banyak mengubah gerak rupiah.

Pada perdagangan Jumat (14/8/2009), rupiah ditutup melemah tipis 9.955 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di 9.950 per dolar AS.

Sementara Chief Economist Deustche Bank, Norbert Walter mengatakan sampai dengan akhir tahun 2009, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tendensinya akan terus menguat. Sampai akhir tahun 2009 rupiah akan berada di kisaran Rp 10.000 terhadap dollar AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tidak akan jauh berbeda dengan saat ini yakni akan terus menguat," ujar Norbert dalam Media Briefing Deutsche Bank Indonesia di Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat (14/08/2009).

Senada dengan Norbert, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Hartadi A Sarwono juga mengatakan Saya penguatan rupiah masih sejalan dengan membaiknya fundamental.

"Real effective exchange rate menunjukkan hal itu," ujar Hartadi dalam pesan singkatnya.

Dikatakan Hartadi, prospek ke depan juga diperkirakan membaik sejalan dengan membaiknya perekonomian dunia.

"Sektor eksternal (ekspor) akan bertahap membaik sehingga akan membantu sektor domestik seperti konsumsi yang masih baik dalam menunjang pertumbuhan ekonomi," tutur Hartadi.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Import diperkirakan akan meningkat sejalan dengan peningkatan investasi dan produksi.

"Sehingga meski akan meningkatkan permintaan valas secara keseluruhan akan berdampak positif di Indonesia," tandasnya.

Sementara dolar AS di pasar Asia masih mengalami tekanan setelah keluarnya data pernjualan ritel AS yang cukup mengecewakan.

Dolar AS melemah ke 95,32 yen dari sebelumnya di 95,36 yen. Sementara euro menguat ke 1,4296 dolar dibandingkan sebelumnya di 1,4287 dolar namun melemah atas yen ke posisi 136,15 yen dibandingkan sebelumnya di 136,32 yen.

"Pialang cenderung memilih membeli euro ketimbang dolar AS karena mereka tidak dapat melihat pemulihan ekonomi AS yang kuat. Institusi finansial AS masih memiliki utang dan tidak terlihat memiliki kemampuan untuk memberikan pinjaman kepada konsumen AS. Tanpa pinjaman, perekonomian AS tidak bisa mencapai pertumbuhan yang berkesinambungan," ujar Hiroshi Sakurai, analis dari Mizuho Investers Securities seperti dikutip dari AFP.
(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads