Menurut Direktur Utama Kimia Farma Syamsul Arifin, sebelumnya pemerintah pernah menjanjikan untuk menalangi kerugian akibat selisih kurs tersebut jika nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat berada di Rp 12.000.
Hingga akhir 2008 lalu, meski jumlahnya tidak besar, perusahaan plat merah itu mengalami rugi kurs sebesar Rp 5 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walau kerugiannya sudah bisa ditutupi, ia mengatakan margin perseroan tetap tipis. Apalagi dengan tingginya harga bahan baku yang rata-rata memakan 70-80 persen total biaya produksi obat.
"Margin keuntungan kita kecil sekali cuma 20 persen. Jika dibandingkan obat generik yang diberi merek oleh swasta, untungnya bisa lebih dari 70 persen dari biaya produksi," ungkapnya.
Meski begitu, ia mengatakan, selama masih disubsidi oleh pemerintah melalui mekanisme public service obligation (PSO) maka pihaknya akan melaksanakan tugas sesuai perintah.
(ang/qom)











































