Data pertumbuhan ekonomi Jepang yang tidak menggembirakan plus perolehan dari Lowe's Cos yang tidak sesuai harapan menghempaskan harapan akan perekonomian.
Pada perdagangan Senin (17/8/2009), indeks Dow Jones merosot 186,06 poin (2%) ke level 9.135,34. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 24,36 poin (2,43%) ke level 979,73 dan Nasdaq melemah 54,68 poin (2,75%) ke level 1.930,84.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelemahan bursa-bursa di Asia dipicu oleh rontoknya bursa China. Sementara data perekonomian yang lemah dari Jepang semakin mengganggu bursa Asia. Pertumbuhan PDB Jepang memang menunjukkan sudah mulai keluar dari resesi pada kuartal II, namun pada tingkat yang tidak sesuai dengan ekspektasi analis.
Bursa China kemarin tercatat anjlok hingga 176,34 poin (5,79%) ke level 2.870,63. Bursa China mencatat penurunan tajam menyusul kekhawatiran akan suplai saham dan penurunan harga komoditas. Berdasarkan perhitungan reuters, price to earning ratio di bursa Shanghai sudah naik 2 kali lipat menjadi 28 kali sejak awal tahun akibat lonjakan tajam. Padahal PE Ratio di indeks S&P 500 misalnya tercatat hanya 15,7 kali.
"Banyak orang melihat China sebagai semacam alasan untuk bergantung memulai segala sesuatunya. Perekonomian China sudah sedemikian baik, dan memimpin kita keluar dari resesi dan sekarang kisah itu sudah terlalu banyak dalam bahaya, ujar Stephen Massocca, managing director Wedbush Morgan seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/8/2009).
Saham Lowe's tercatat turun hingga 10,3% setelah perusahaan renovasi rumah itu memberikan alasan yang sangat sedikit untuk menjadi positif tentang proyeksi konsumen. Hal itu menimbulkan kekhawatiran tentang melemahnya permintaan konsumen yang merupakan penggerak utama perekonomian AS.
Saham Caterpillar tercatat turun hingga 4,5% dan menjadi faktor terbesar penurunan Dow Jones.
Volume perdagangan masih sangat tipis, di New York Stock Exchange hanya 1,22 miliar, dibandingkan rata-rata tahun lalu yang sebesar 1,49 miliar. Di Nasdaq, transaksi juga hanya 1,95 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebesar 2,28 miliar.
Minyak Terus Merosot
Sementara harga minyak mentah dunia terus merosot mengikuti pelemahan di pasar saham. Kekhawatiran belum usainya resesi di AS memicu aksi jual di pasar komoditas.
Pada perdagangan Senin di New York, kontrak utama minyak light sweet pengiriman September turun 76 sen menjadi US$ 66,75 per barel. Minyak Breng pengiriman Oktober juga turun 90 sen menjadi US$ 70,54 per barel.
"Ada kekhawatiran lagi bahwa pemulihan ekonomi akan berjalan lebih lama dari harapan. Takkan ada permintaan minyak tanpa pertumbuhan dan tidak akan ada permintaan yang cukup dan cadangan yang sedikit," ujar Adam Sieminski, ekonom energi dari Deutsche Bank seperti dikutip dari AFP.
(qom/qom)











































