Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono mengatakan, salah satu penyebab pelemahan rupiah pada hari ini adalah karena investor memanfaatkan sentimen negatif bursa regional untuk profit taking dan mencari aset dengan yield yang lebih tinggi.
"Perkembangan nilai tukar akhir-akhir ini diwarnai oleh investor ritel yang memanfaatkan sentimen negatif global (China dan AS) untuk profit taking. Investor ritel mengalihkan dari dalam negeri ke aset luar negeri dengan kualitas dan yield yang tinggi," ujar Hartadi kepada detikFinance, Selasa (18/8/2009).
Ia menjelaskan, fenomena profit taking seperti ini biasanya bersifat sementara. Pagi ini rupiah dibuka sempat melemah ke 10.025 per dolar AS sebelum akhirnya surut ke 10.010 per dolar AS, melemah dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di 10.055 per dolar AS.
"Secara fundamental, prospek ekonomi kita masih dianggap baik dibandingkan negara emerging lainnya, serhingga investor institutional cenderung positif menempatkan investasinya ke Indonesia," jelas Hartadi. (qom/dnl)










































