Kompak Soal Bunga, Saham Bank Cerah Ceria

Kompak Soal Bunga, Saham Bank Cerah Ceria

- detikFinance
Jumat, 21 Agu 2009 10:32 WIB
Kompak Soal Bunga, Saham Bank Cerah Ceria
Jakarta - Saham-saham perbankan langsung cerah menyusul kesepakatan 15 bank untuk melakukan penyesuaian suku bunga. Kesepakatan itu diharapkan bisa mengakhiri perang suku bunga yang selama ini membebani cost of fund perbankan.

Pada perdagangan Jumat (21/8/2009) pukul 10.20 waktu JATS, saham-saham bank bergerak menguat.
  • BNI (BBNI) sempat naik Rp 10 menjadi Rp 2.000,
  • BRI (BBRI) naik Rp 100 menjadi Rp 7.200.
  • Bank Danamon (BDMN) naik Rp 125 menjadi Rp 4.500,
  • Bank Mandiri (BMRI) stagnan di Rp 4.000
  • BCA (BBCA) naik Rp 75 menjadi Rp 4.300.

Ketua Himbara dan Ketua IBI Agus Martowardojo, 15 bank besar tersebut sebelumnya telah mengadakan pertemuan yang difasilitasi oleh Bank Indonesia dalam membahas hal tersebut.

"15 Bank telah menyepakati untuk menyesuaikan tingkat suku bunga DPK-nya selaras dengan BI Rate dan diperkirakan keselarasan dapat tercapai dalam jangka waktu 3 bulan ke depan," ujar Agus dalam siaran persnya.

Bank yang telah sepakat tersebut diantaranya, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Tabungan Negara (BTN), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Danamon Tbk, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan lainnya.

Ekonom Bank Danamon, Helmi Arman mengatakan, dalam kesepakatan tersebut, bank-bank akan membatasi suku bunga simpanan untuk seluruh tenor maksimal 8% atau 150 basis poin di atas BI Rate per 1 September 2009. Dan hingga Desember 2009, marjin akan dikurangi hingga 50 basis poin di atas BI Rate.

Namun sayangnya belum ada Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang mengatur masalah ini. Namun sanksi yang tidak disebutkan akan dikenakan pada bank yang tidak menerapkannya.

Helmi menjelaskan, karena investor terbiasa dengan suku bunga dua digit untuk simpanannya, maka kesepakatan bank tersebut bisa memicu mereka untuk mempertimbangkan aset finansial lain seperti obligasi dan saham-saham.

"Sehingga di pasar obligasi, akan ada sedikit peningkatan permintaan untuk obligasi dengan tenor di atas 2 tahun (yang memberikan imbal hasil 8%), kemungkinan hingga 5 tahun," jelas Helmi. (qom/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads