Pada perdagangan Senin (24/8/2009) di New York, kontrak utama minyak light sweet pengiriman Oktober naik 48 sen menjadi US$ 74,37 per barel. Kontrak ini sempat berada di titik tertingginya pada US$ 74,81 per barel,yang merupakan level tertinggi sejak 20 Oktober.
Sementara minyak Brent pengiriman Oktober juga naik 7 sen menjadi US$ 74,19 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara saham-saham di Wall Street bergerak statis untuk beristirahat sejenak setelah minggu lalu melonjak tajam.
Pada perdagangan Senin (24/8/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup menguat 3,32 poin (0,03%) ke level 9.509,28. indeks Standard & Poor's 500 malah turun tipis 0,56 poin (0,05%) ke level 1.025,57 dan Nasdaq melemah 2,92 poin (0,14%) ke level 2.017,98.
Sebelumnya, Dow Jones menguat hingga 9.587,73, S&P 500 ke 1.035,82 dan Nasdaq sempat menembus 2.036,-3.
Wall Street sempat dibuka menguat, namun lonjakan harga obligasi pemerintah AS atau US Treasury sehingga menekan yield akhirnya memicu aksi jual di pasar saham. Penguatan bursa luar dan data ekonomi global telah memberi data tambahan bahwa proses pembalikan sedang berlangsung.
"Kita telah melihat putusnya hubungan antara 2 pasar ini. Saham-saham menguat karena optimisme ekonomi dan obligasi naik karena kekhawatiran ekonomi," ujar Peter Boockvar, analis dari Miller Tabak & Co seperti dikutip dari Reuters.
"investor akhirnya menyadari ini dan melihat US Treasury sebagai tanda bahwa mereka seharusnya tidak membeli terlalu banyak," imbuhnya.
Saham-saham sektor finansial mengalami kemunduran setelah analis bank Richard Bove mengatakan sekitar 150 hingga 200 lebih bank akan gagal selama krisis perbankan. Saham JPMorgan melemah 1,5%, indeks S&P Financial melemah 0,9%.
Volume perdagangan masih sangat tipis, di New York Stock Exchange hanya 1,23 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu sebesar 1,49 miliar. Di Nasdaq, transaksi juga hanya 2,06 miliar di bawah rata-rata tahun lalu sebanyak 2,28 miliar.
(qom/qom)











































