Demikian disampaikan dalam laporan keuangan perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (28/8/2009).
Pendapatan TINS semester I-2009 sebesar Rp 3,539 triliun, turun 15,79% dari periode yang sama tahun 2008 sebesar Rp 4,203 triliun. Hal ini terutama disebabkan turunnya harga rata-rata timah sebesar 38,3% menjadi US$ 12.087 per ton dari sebelumnya US$ 19.591 per ton.
Padahal, penjualan timah perseroan meningkat 15,06% menjadi 24.110 ton dari sebelumnya 20.954 ton. Namun akibat turunnya harga rata-rata timah, marjin per ton yang diterima perseroan hanya sebesar US$ 645 per ton, anjlok 92,22% dari sebelumnya US$ 8.299 per ton.
Beban pokok pendapatan meningkat 39,44% menjadi Rp 3,164 triliun dari sebelumnya Rp 2,269 triliun.
Hal ini menyebabkan laba kotor dibukukan hanya sebesar Rp 374,998 miliar, anjlok 80,60% dari tahun sebelumnya Rp 1,933 triliun. Beban usaha dibukukan sebesar Rp 196,398 miliar, menurun 24,83% dari tahun sebelumnya Rp 261,336 miliar.
Laba usaha sebesar Rp 178,60 miliar, anjlok 89,31% dari periode yang sama tahun 2008 sebesar Rp 1,671 triliun.
Beban lain-lain mengalami peningkatan tajam sebesar 474,35% menjadi Rp 67,191 miliar dari sebelumnya Rp 11,652 miliar. Peningkatan ini disebabkan adanya peningkatan beban bunga sebesar 352,63% menjadi 34,371 miliar dari sebelumnya Rp 7,641 miliar serta rugi kurs sebesar Rp 95,711 miliar, naik 198,13% dari sebelumnya Rp 32,102 miliar.
Akibatnya, perseroan hanya membukukan laba bersih sebesar Rp 42,825 miliar, anjlok 96,14% dari sebelumnya Rp 1,111 triliun.
(dro/dnl)











































