Pada September 2009, pemerintah AS dibuat 'sibuk' oleh berbagai masalah finansial yang membelit raksasa-raksasa finansialnya. Kondisi tersebut mau tak mau ikut menyeret seluruh pasar finansial dunia. Tak satu pun negara yang luput, termasuk Indonesia.
Di bulan September, pemerintah AS memutuskan untuk menyelamatkan Fannie Mae dan Freddie Mac, yang menjadi progam bailout terbesar dalam sejarah AS selama ini. Kedua perusahaan pembiayaan rumah AS itu harus diselamatkan setelah hancurnya sektor perumahan AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditambah American International Group (AIG), perusahaan asuransi terbesar di AS, juga diambang kebrangkutan sehingga The Fed memutuskan untuk memberikan bailout sebesar US$ 85 miliar.
Dampak krisis keuangan telah semakin berimbas ke sektor riil, seperti tercermin dari turunnya angka penjualan eceran dan meningkatnya pengangguran di AS dan berbagai negara Eropa.
Rentetan demi rentetan kejadian terus menghantui kondisi pasar finansial dunia. Dan stabilitas setidaknya baru mulai dirasakan memasuki tahun 2009. Bursa Wall Street yang sempat terjatuh ke titik terendah sejak Great Depression, secara perlahan mulai pulih.
Indeks Dow Jones bahkan menembus level tertingginya sepanjang 2009. Demikian pula Standard & Poor's 500 dan juga Nasdaq yang berhasil naik hingga 50% sejak titik terendahnya pada 9 Maret lalu. Meskipun jika dibandingkan titik tertinggi di tahun 2007, S&P 500 masih kurang 34%.
Kendati demikian, transaksi perdagangan di tahun 2009 masih sangat tipis. Investor belum lepas dari trauma kejatuhan pasar. Bahkan analis memperkirakan investor semakin khawatir tentang 'September Effect'.
"Kutukan bulan September, bulan paling lemah sepanjang tahun sepertinya akan membawa pasar ke aksi jual bahkan sebelum kita memasuki bulan tersebut," ujar Al Goldman, analis dari Wells Fargo Advisors seperti dikutip dari AFP.
Selain itu, lanjut dia, belum ada tanda-tanda yang jelas bahwa pasar secara total telah bekerja selama 5 bulan terakhir hingga mencapai rally sekitar 50%.
"Untungnya, ini hanya masalah jangka pendek. Hal yang lebih penting adalah membaiknya fundamental dan rasio valuasi yang masuk akal," tambahnya.
Sementara Andy Brooks, head of equity trading T Rowe Price mengatakan, ketangguhan pasar saat ini adalah sebuah pertanda yang baik.
"Periode konsolidasi dan berada di level saat ini mungkin merupakan sebuah bullish yang fair. Kita telah melihat sebuah rally yang tidak dapat dikendalikan dan kita harus mempersiapkan untuk sebuah pengurangan, namun suara dari pasar kini sudah membaik," ujarnya.
Beberapa pengamat pasar juga mengatakan bahwa 'arus balik' dari resesi bisa saja lebih kuat dari yang telah diantisipasi. Hal ini dapat membantu mendongkarak laba korporasi dan pasar saham.
"Di AS, semua tanda kecuali belanja konsumen mulai menunjukkan pemulihan yang kuat," ujar Christian Broda, ekonom dari Barclays Capital.
Sejumlah tanda perbaikan ekonomi dan pasar finansial juga telah ditunjukkan oleh berbagai negara di dunia. Meskipun harapan akan pemulihan ekonomi yang cepat memang masih jauh. Semua kini hanya berharap agar 'September Effect' setahun silam, tidak terjadi lagi pada September 2009 ini.
(qom/qom)











































