Perseroan meminta kontraktor yang akan mengerjakan proyek perseroan untuk menghitung kembali nilai wajarnya. Akibat krisis ekonomi global, nilai belanja barang modal proyek tersebut menjadi terlalu tinggi.
"Setelah dihitung kembali, nilai proyek Tayan bisa sampai US$ 400 juta. Saat ini kami masih melakukan negosiasi dengan kontraktor. Kami harapkan nilainya masih bisa direvisi," kata Direktur Utama ANTM, Alwinsyah Lubis di sela acara buka puasa bersama, Jakarta, Selasa (1/9/2009) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang lagi dihitung oleh kontraktor, kami punya bagian 20%, sisanya milik Indika dan Nava Bharat. Nilainya terlalu tinggi kita hitung-hitung lagi cari alternatif harga yang sewajar mungkin," ujarnya.
Meski demikian, Alwin berharap pengembangan proyek-proyek tersebut dapat segera direalisasikan terutama untuk tujuan efisiensi biaya listrik perseroan. Dengan adanya PLTU ini, biaya produksi feronikel perseroan yang saat ini mencapai US$ 4,91 per pound bisa ditekan hingga 10-15%.
"Sehingga kita bisa lebih save kalau harga nikel drop lagi. Yang penting adanya PLTU itu nanti akan bisa menurunkan biaya operasi pabrik feronikel kami. Harga listrik yang diharapkan setelah adanya PLTU itu nanti sekitar US$9 sen per kwh. Kalau harga sekarang di US$13-14 sen per kwh," jelas Alwin.
Untuk memasok kebutuhan batubara pembangkit listrik tersebut, ANTM berencana mengakusisi pemilik Kuasa Penambangan (KP) di Kalimantan yang diharapkan akan selesai tahun ini.
"Saat ini ada 3 perusahaan pemilik KP yang sedang kita incar dengan target produksi minimal 2 juta ton per tahun tiap KP. Nilainya belum," ujar Alwin.
(dro/qom)











































