Menurut Direktur Utama Timah Wachid Usman, kapal keruk besar tersebut nilainya US$ 30 juta, sedangkan 5 kapal keruk kecil totalnya US$ 15 juta. Pembelian kapal tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan volume produksi perseroan tahun depan.
"Tahun ini volumenya sekitar 46.000 ton, sekitar itulah," ujarnya di kantor Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (7/9/2009).
Mengenai pendanaannya, ia mengatakan, pihaknya belum akan melakukan aksi korporasi atau mencari dana dari luar. Dengan begitu bisa dipastikan dana yang digunakan sepenuhnya dari internal perusahaan.
Ia mengatakan, seiring tren harga timah yang menurun, perusahaan pelat merah itu menunda beberapa investasinya tahun ini.
Investasi yang ditahan antara lain, rencana produksi aspal di Buton dengan nilai investasi US$ 25 juta. Selain itu, perseroan juga meminimalisir produksi tin chemical.
"Kita berharap di semester II ada kenaikan (harga timah). Trennya sudah terlihat, sekarang sudah US$ 14.000-15.000/ton," imbuhnya.
Ia mengatakan, hingga akhir tahun 2009 diperkirakan pendapatan perseroan akan lebih baik dibandingkan semester pertama tahun ini. Namun nilainya masih jauh lebih kecil dibandingkan pendapatan di akhir tahun 2008.
(ang/dnl)











































