Market Flash eTrading

Market Flash eTrading

- detikFinance
Senin, 14 Sep 2009 09:02 WIB
Market Flash eTrading
Jakarta - Dow Jones: Pada perdagangan pekan lalu, indeks Standard & Poor mencatat penguatan terbaiknya sejak Juli akibat meningkatnya perkiraan untuk permintaan minyak yang berdampak pada kenaikan saham energi dan rekomendasi Goldman Sachs Group Inc. yang mengangkat saham industri.

Schlumberger Ltd. dan Halliburton Co. naik sedikitnya 6.3% ketika harga minyak menyentuh level di atas $72 per barel. General Electric Co. rally 5.8% setelah Goldman Sachs mengatakan perusahaan multi industri berpeluang untuk menghasilkan kinerja yang baik. Indeks S&P 500 (+2.6%) 1,042.73 dan Dow Jones (+1.7%) 9,605.41.

Regional Pagi: Bursa Asia melemah, menyeret MSCI Asia Pacific Index dari level tertinggi 1 tahun, seiring penguatan yen dan harga komoditas melemah, melampaui epenguatan yang lebih besar dari estimasi dalam kepercayaan konsumen AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bursa Jepang melemah tajam, seiring lonjakan yen terhadap nilai tukar mitra lainnya, menghempas eksporti seperti Canon Inc. (-3.1%) dan Casio Computer Co. (-3.8%), Toyota Motor Corp. (-1.3%). Honda Motor Co. (-1.9%) di Tokyo dengan kekhawatiran apresiasi yen akan melamahkan nilai pendapatan asing. Rio Tinto Group (-1%) di Sydney. Japan Airlines Corp. (+6.8%) dengan spekulasi American Airlines, Inc. akan membeli kepemilikan di perusahaan Japan Airlines. Nikkei 225 (-1.4%) 10,296.60 dan Topix Index (-1.1%) 939.87. KOSPI INDEX (-0.73%) 1,639.59. S&P/ASX 200 INDEX (-0.79%) 4,559.90. STI (-1.04%) 2,653.17.

Commodity: Crude oil turun untuk hari kedua akibat spekulasi bahwa harga minyak akan rally ke level $75/barel. Laporan US yang akan keluar esok hari kemungkinan akan menunjukkan konsumsi minyak dunia yang hampir tidak berubah pada bulan Agustus berdasarkan hasil survey para ekonom. Crude oil untuk pengiriman Oktober (-1.1%) menjadi $68.54/barel , Brent crude oil untuk Oktober (-0.8%) $67.13 per barel.  Gold (+0.04%) $1.006/oz,CPO (+1.5%) $680/MT, Coal (-5%) $67/MT, Nickel (-1.5%) $16.950/MT, Tin (+1.4%) $14.400/MT.

Economic & Industrial News

Economic : Stimulus tahun depan kurang dari Rp 73.3 T

Tahun depan, alokasi stimulus ekonomi diperkirakan akan kurang dari Rp 73.3 triliun akibat kebijakan tahun ini yang dapat membuat perekonomian Indonesia mendapatkan keuntungan dari perusahaan swasta. Anggaran belanja tahun depan diproyeksikan sekitar Rp 1.047.67 triliun, smentara deficit anggaran diproyeksi Rp 98 triliun.

Commodity: Cargill Siap Pasok Gula Impor 180 Ribu Ton

Cargill siap memasok kebutuhan impor raw sugar (gula mentah) Indonesia sebanyak 180 ribu ton dalam waktu dekat. Perusahaan perdagangan komoditas agribisnis terbesar dunia itu memastikan ikut tender raw sugar untuk PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Pasokan gula Cargill berasal dari AS dan sedikit dari Brasil.

Corporate News

DOID: Tunjuk 3 Underwiter Obligasi BUMA

BUMA menunjuk tiga underwriter yakni Deutsche Bank AG, ING Group NV dan Barclays Capital terkait penerbitan bligasi senilai US$600 juta atau Rp6 triliun. Perolehan dana untuk melunasi utangnya US$310 juta.

MEDC: Capex FY10 Medco EP Dipatok US$300 Jt

MEDC mematok capex FY10 anak usahanya, PT Medco EP Indonesia sebesar US$310 juta. Pendanaan akan digunakan untuk pengembangan ladang migas Donggi-Senoro, Sulteng US$50 juta dan proyek gas Blok A, Aceh US$88 juta.

BUMI: Menkeu Disinyalir Jegal Langkah Bakrie

Menkeu, Sri Mulyani disinyalir ingin menyingkirkan anak usaha BUMI PT Multicapital terkait pembeliaan saham Newmont periode 2008-2009 dan menginginkan Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Dept. Keuangan sebagai pembeli saham tersebut. Olehkarena itu, Sri Mulyani mengusulkan perpanjangan deadline pembelian selama 180 hari dari batas 24 Sept09. Hal tersebut diungkapkan oleh pejabat tinggi pemerintahan yang mengetahui proses tersebut.
 
PGAS: PGAS-PTBA Diusulkan Jadi Anak Usaha PLN

PGAS-PTBA diusulkan jadi anak usaha PLN guna menjamin pasokan batubara dan gas bagi PLN. DPR menilai buruknya keuangan PLN karena kurangnya pasokan energi primer khususnya gas dan batubara.
 
BRPT :1H09, Catat Laba Bersih Rp383,7 M (+202,9% yoy)

1H09, BRPT mencatat laba bersih sebesar Rp383,7 miliar vs 1H08 merugi Rp372,7 miliar atau melonjak 202,95% yoy. Beban pokok penjualan turun jadi Rp5,49 triliun vs 1H08 Rp8,6 triliun. Namun pendapatan -23,4% yoy jadi Rp6,52 triliun. Harga jual polypropylene (PP) 2Q09 naik jadi US$1.189/MT vs 1Q09 US$948/MT sedangkan harga politetelina (PE) naik dari US$987/MT jadi US$1.160/MT. Selanjutnya, perseroan disinyalir berencana rights issue guna membiayai ekspansi berupa akuisisi.

INDY: Beli Berau, Kantongi Utang US$375 Jt

INDY akan mengantongi pinjaman US$375 juta dari sindikasi tujuh bank asing bertenor 3-5 tahun meliputi BNP Paribas, Citigroup, dan United Overseas Bank (UOB). Perolehan dana untuk membeli 90% saham PT Berau Coal.

OKAS: Akuisisi Tambang Batubara US$ 108 Juta

OKAS mengalokasikan dana sedikitnya US$ 108 juta (Rp 1,1 triliun) untuk mengakuisisi satu kuasa pertambangan (KP) batubara di Kalimantan Timur. Produksi batubara KP ditargetkan 300 ribu mt per bulan atau 3,6 juta ton per tahun yang saat ini memproduksi 25-50 ribu mt per bulan.

BBRI: Perbesar Emisi Subdebt Jadi Rp 3 T

BBRI berencana menambah nilai emisi subdebt yang akan diterbitkan menjadi RP 3 triliun dari rencana semula Rp 1,5 triliun. Waktu penerbitannya diundur dari akhir tahun menjadi Maret hingga Juni tahun depan, yang disebabkan oleh tren penurunan suku bunga masih berlanjut hingga 2010 sehingga subdebt masih bisa ditunda, ungkap Direktur Utama BRI Sofyan Basir.

BBNI: Transaksi Remitansi Naik 38,3%

Januari-Agustus 2009, BBNI mencatat kenaikan transaksi pengiriman uang dari luar negeri sebanyak 38,31% dengan total mencapai US$ 1,73 miliar. Sebagian besar transaksi remitansi berasal dari Timur Tengah dan negara lain seperti Malaysia dan Hong Kong yang terdapat banyak TKI.

ADRO: Meraih Komitmen Utang US$1,4 Miliar

ADRO hampir merampungkan negosiasi pinjaman dari 12 hingga 15 bank lokal dan asing. Dalam proposalnya, ADRO mengajukan uang senilai US$500 juta yang bertenor lima tahun. Beberapa pihak yang mengetahui negosiasi tersebut menghitung, ADRO telah menerima komitmen pinjaman berkisar US$1,2 miliar sampai US$1,4 miliar.

(etr/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads