Sepanjang pekan lalu, mata uang regional terus bergerak menguat atas dolar AS didorong oleh keinginan mengambil risiko kembali di tengah harapan membaiknya pemulihan ekonomi.
Pada Jumat (25/9/2009) lalu, rupiah ditutup menguat ke 9.660 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.730 per dolar AS. Dan pada perdagangan Senin (28/9/2009), rupiah masih stabil dibuka di level 9.661 per dolar AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Investor kini cenderung memilih mata uang yang lebih berisiko namun memberikan imbal hasil tinggi, ketimbang mata uang 'safe-haven' layaknya dolar AS. Apalagi Bank Sentral AS diperkirakan terus menahan suku bunga ekstra rendah untuk beberapa waktu kedepan demi menggerakkan lagi pasar kreditnya.
Dolar AS juga semakin mendapatkan tekanan dari pernyataan G20 dalam pertemuannya di Pittsburgh, AS pekan lalu.
"Para pemimpin G20 sepertinya membuat pernyataan implisit bahwa meraka tidak akan melaksanakan kompetisi devaluasi. Ini merupakan pengulangan untuk membiarkan pasar memutuskan gerak mata uang dan tidak menggunakan kebijakan moneter guna mendapatkan keuntungan perdagangan," ujar Sacha Tihanyi, analis dari Scotia Capital seperti dikutip dari AFP.
(qom/qom)











































