BUMI : Pinjaman CIC Tak Pengaruhi Kinerja

BUMI : Pinjaman CIC Tak Pengaruhi Kinerja

- detikFinance
Senin, 28 Sep 2009 08:57 WIB
Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyatakan pinjaman raksasa dari China Investment Corporation (CIC) senilai US$ 1,9 miliar tidak akan mempengaruhi kinerja keuangan perseroan.

Menurut SVP Investor Relations BUMI Dileep Srivastava, pembayaran utang tersebut baru akan dilakukan pada tahun 2013, setelah BUMI mencapai target produksi 111 juta ton di 2012.

"Pembayaran akan dilakukan secara penuh mulai tahun ke 4, 5 dan 6. Sebelumnya kami tidak membayar apa pun," ujarnya saat dihubungi detikFinance, akhir pekan lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BUMI telah menandatangani perjanjian investasi berupa pinjaman senilai US$ 1,9 miliar dari CIC, perusahaan milik pemerintah China.

Pinjaman sebesar US$ 1,9 miliar tersebut terdiri atas 3 struktur. Pertama, pinjaman sebesar US$ 600 juta dengan tenor 4 tahun. Kedua pinjaman sebesar US$ 600 juta dengan tenor 5 tahun dan sisanya US$ 700 juta akan dikembalikan dalam 6 tahun.

Dana tersebut akan digunakan untuk restrukturisasi utang-utang perseroan dan pendanaan belanja modal (capital expenditure /capex). Pinjaman tersebut dikenakan kupon bunga sebesar 12% per tahun dengan total Internal Rate of Return (IRR) sebesar 19%.

Dalam transaksi ini, PT Samuel Sekuritas Indonesia bertindak sebagai arranger dan penasihat keuangan serta Jones Day bertindak sebagai penasihat hukum BUMI. Deutsche Bank dan China International Capital Corporation (CICC) bertindak sebagai penasihat keuangan serta Davis Polk & Wardwell sebagai penasihat hukum CIC.

Jadi, sebagaimana dikatakan Dileep, BUMI baru akan mulai melakukan pembayaran pada tahun 2013 sebesar US$ 600 juta, 2014 sebesar US$ 600 juta dan 2015 sebesar US$ 700 juta.

Menurut Dileep, hal tidak akan mempengaruhi kinerja BUMI. Sebab, pembayaran tidak akan dilakukan sebelum 2013. Sementara pada tahun 2012, BUMI menargetkan produksi 111 juta ton, dua kali lipat dari produksi tahun 2008.

"Hampir seluruhnya akan dibayarkan dari kas internal kami seiring dengan pertumbuhan bisnis pertambangan ke depan," ujar Dileep.



(dro/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads