"Kami sedang menyiapkan 200 km jalan tol baru dalam 3-4 tahun mendatang," ujar Direktur Utama Jasa Marga, Frans Sunito di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (29/9/2009) malam.
Frans mengatakan, ruas-ruas tol yang sudah masuk dalam perencanaan perseroan antara lain tol Trans Jawa ruas tol Semarang-Solo 76 km, Gempol-Pasuruan 32 km, dan Surabaya-Mojokerto 42 km.
"Itu juga termasuk proyek Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (Jakarta Outer Ring Road /JORR) kami yang masih terputus yakni seksi W2 Ulujami-Kebon Jeruk sepanjang delapan kilometer," ujarnya.
Saat ini, JSMR mengoperasikan ruas tol sepanjang 530 km. Dia menambahkan, proyek Jakarta Outer Ring Road II atau sering disebut Outer Outer Ring Road (OORR) seperti ruas Bandara-Serpong sepanjang 25 km dan Bogor Ring Road sepanjang 11 kilometer juga masuk dalam rencana Jasa Marga dalam menambah 200 km ruas tol baru.
Untuk pendanaannya, perseroan menganggarkan dana sebesar Rp 4 triliun. Dimana perseroan menggunakan dana internal sebesar 30% dan 70% dari pinjaman bank. Menurut Frans, kas yang dimiliki perseroan saat ini masih cukup besar, ekuitas masih sekitar Rp 6 triliun, termasuk sisa dana hasil penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering / IPO) sebesar Rp 3,4 triliun.
Sementara dari pinjaman bank, perseroan telah mendapat fasilitas pinjaman sebesar Rp 7 triliun, dari sindikasi tiga bank, yaitu PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Sementara mengenai kenaikan tarif tol yang mulai berlaku pada 28 September 2009, Frans mengaku tidak akan melakukan revisi target pendapatan. Rupanya kenaikan tarif tol sudah menjadi bagian dari rencana kerja perseroan tahun ini.
"Target pendapatan kami masih tetap Rp 3,6 triliun, itu telah disesuaikan dengan kenaikan tol yang terjadi. Pendapatan tersebut merupakan kombinasi dari pertumbuhan traffic sekitar 3-4% dan kenaikan tarif," ujarnya.
Dari 14 ruas jalan tol yang mengalami kenaikan tarif, sebanyak 10 ruas diantaranya dikelola oleh perseroan.
Dengan direalisasikannya kenaikan tarif tol, perseroan yakin dapat meraih pertumbuhan pendapatan sebesar 10% tahun ini menjadi Rp 3,6 triliun dari tahun lalu Rp 3,2 triliun. Untuk proyeksi laba bersih, Frans belum bisa memperkirakannya. "Itu belum bisa dihitung," tukasnya.
(dro/dnl)











































