"Manajemen BUMI akan segera dipanggil untuk menjelaskan soal pinjaman US$ 1,9 miliar tersebut. Pekan ini," ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Eddy Sugito saat dihubungi detikFinance, Selasa (29/9/2009).
Menurut Eddy, manajemen BUMI akan diminta untuk menjelaskan secara lebih detail soal struktur pinjaman sebesar US$ 1,9 miliar dari China Investment Corporation (CIC).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BUMI sebagai perusahaan dengan perdagangan saham teraktif di BEI tentu saja setiap aksi korporasi perusahaan batubara terbesar di Indonesia ini selalu dipantau oleh pelaku pasar.
Malah seringkali aksi korporasi BUMI menimbulkan spekulasi yang sering dimanfaatkan pelaku pasar untuk memutuskan investasinya.
"Tujuan pemanggilan ini tidak lain untuk mencegah terjadinya spekulasi yang sedemikian rupa di pasar. Jadi bukan untuk tujuan lainnya, tapi juga untuk melindungi BUMI dari sejumlah spekulasi yang mungkin muncul," ujarnya.
BUMI telah menandatangani perjanjian investasi berupa pinjaman senilai US$ 1,9 miliar dari CIC, perusahaan milik pemerintah China.
Pinjaman sebesar US$ 1,9 miliar tersebut terdiri atas 3 struktur. Pertama, pinjaman sebesar US$ 600 juta dengan tenor 4 tahun. Kedua pinjaman sebesar US$ 600 juta dengan tenor 5 tahun dan sisanya US$ 700 juta akan dikembalikan dalam 6 tahun.
Dana tersebut akan digunakan untuk restrukturisasi utang-utang perseroan dan pendanaan belanja modal (capital expenditure /capex).
Pinjaman tersebut dikenakan kupon bunga sebesar 12% per tahun dengan total Internal Rate of Return (IRR) sebesar 19%.
Dalam transaksi ini, PT Samuel Sekuritas Indonesia bertindak sebagai arranger dan penasihat keuangan serta Jones Day bertindak sebagai penasihat hukum BUMI. Deutsche Bank dan China International Capital Corporation (CICC) bertindak sebagai penasihat keuangan serta Davis Polk & Wardwell sebagai penasihat hukum CIC.
Menurut SVP Investor Relations BUMI Dileep Srivastava, pinjaman tersebut tidak akan mempengaruhi kinerja BUMI. Sebab, perseroan baru akan mulai membayar pada 2013 sebesar US$ 600 juta, 2014 sebesar US$ 600 juta dan 2015 sebesar US$ 700 juta.
BUMI sendiri menargetkan produksi sebesar 111 juta ton di 2012, dua kali lipat dari produksi tahun 2008. Oleh sebab itu, BUMI yakin pembayaran utang yang dimulai tahun 2013 akan dapat dibayar dengan baik tanpa harus membebani kinerja keuangan perseroan.
(dro/qom)
