Aksi jual ini disinyalir dampak dari aksi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) meminjam dana sebesar US$ 1,9 miliar dari China Investment Corporation (CIC) dengan menjaminkan aset PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) seperti dikutip detikFinance, selama 3 hari berturut-turut sejak 30 September 2009 hingga berita ini ditulis, asing tercatat melepas saham BUMI senilai Rp 2,306 triliun. Nilai transaksi jual bersih asing (foreign net selling) atas saham BUMI mencapai Rp 967 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut salah seorang pelaku pasar yang enggan disebutkan namanya, aksi jual massif asing terhadap saham BUMI disebabkan aksi pinjaman US$ 1,9 miliar dari CIC bisa membahayakan kinerja BUMI ke depan.
Spekulasi yang beredar menyebutkan, asing takut pinjaman CIC akan berakhir dengan pembayaran saham. Selain itu, pelaku pasar tersebut menduga, asing menilai aksi BUMI menjaminkan aset utama perseroan KPC dan Arutmin terlalu berani.
"Jika krisis berlanjut dan harga komoditas batubara anjlok dalam beberapa tahun ke depan, maka bisa berbahaya bagi kinerja BUMI," tuturnya.
Pinjaman CIC US$ 1,9 miliar tersebut dibagi dalam 3 struktur, pertama pinjaman 4 tahun US$ 600 juta, pinjaman 5 tahun US$ 600 juta dan pinajam 6 tahun US$ 700 juta.
BUMI sendiri optimis dengan aksi pinjaman raksasa dari BUMN China tersebut. BUMI menargetkan mampu memproduksi batubara 111 juta ton di 2012, dua kali lipat dari produksi tahun 2008.
Menurut SVP Investor Relation BUMI Dileep Srivastava, dengan target produksi sebesar itu, pinjaman akan dapat dibayar tanpa mengganggu kinerja BUMI.
(dro/ang)











































