Hal ini disampaikan Kepala BKPM, M Luthfi di sela acara seminar dan workshop Peluang dan Tantangan Industri dalam peningkatan nilai tambah mineral batubara Indonesia, di Hotel Ritz Carlton Pacific Place SCBD, Jakarta, Rabu (07/10/2009).
"Saya minta Antam untuk memutuskan apa akan mengerjakan sendiri atau partner. Mudah-mudahan akhir tahun ini sudah diputuskan akan dikerjakan sama siapa," ujar Lutfi.
Antam dan Russian Aluminum pada 2007 menandatangani perjanjian awal Head of Agreement (HoA) untuk pengembangan deposit bauksit serta membangun pabrik pengolahan alumunium di Kalimantan Barat. HoA tersebut telah berakhir pada September lalu.
Luthfi menjelaskan, pihaknya dan Antam akan bertemu dengan Russal untuk memastikan kelanjutan pengembangan proyek ini. "Kami ingin mempertegas kapan Russal akan keluar. Akhir bulan ini saya minta mereka kasih keputusannya," katanya.
Menurut Luthfi, saat ini sudah ada banyak perusahaan yang berminat untuk bergabung dengan Antam. Salah satu perusahaan tersebut adalah perusahaan asal Norwegia, North Hydro. "North Hydro sudah bertemu kami dua kali," aku Luthfi.
Sementara itu, Direktur Utama PT Antam Tbk, Alwinsyah Loebis menyatakan hingga saat ini pihaknya masih belum memutuskan siapa yang akan menjadi partnernya untuk pengembangan proyek tersebut. "Sampai sekarang Russal masih belum resmi mengundurkan diri," kata Alwin saat dikonfirmasi.
Proyek pengolahan aluminium Tayan diperkirakan akan mengolah 3,6 juta wet metric ton bauksit tercuci per tahun menjadi 1,2 juta ton smelter grade alumina per tahun. Estimasi awal nilai proyek US$ 1,2 miliar-1,5 miliar dan Antam memiliki 49 persen dan Russal 51 persen.
Produksi bauksit dari lapangan Tayan sekarang mencapai 50 ribu ton. Antam memperkirakan akhir tahun nanti produksi akan meningkat hingga 300 ribu - 400 ribu ton. (epi/dnl)











































