Pada perdagangan Kamis (8/10/2009), rupiah akhirnya ditutup menguat tipis di 9.409 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.420 per dolar AS. Dealer mengungkapkan, BI masuk ke pasar melalui bank BUMN untuk mencegah penguatan rupiah yang terlalu cepat.
Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono yang dikonfirmasi mengenai hal ini hanya menyatakan, penguatan rupiah saat ini masih sehat dan sejalan dengan kondisi neraca pembayaran Indonesia yang surplus.
"Penguatan nilai tukar meski lebih banyak akibat melemahnya dolar, menunjukkan Indonesia back on the radar screen para investor," jelas Hartadi kepada detikFinance.
Ia menjelaskan, saat ini memang banyak aliran modal jangka pendek yang masuk ke Indonesia karena indikator jangka pendek yang menarik. Namun menurut Hartadi, jika kestabilan dan prospek ekonomi jangka panjang dipertahankan, maka investor akan beralih ke investasi yang sifatnya jangka panjang.
"Nilai tukar kita masih dalam kisaran penguatan yang sehat sejalan dengan kondisi balance of payment yang surplus. Tantangan kita adalah mempertahankan kestabilan ekonomi dengan nilai tukar bergerak sesuai dengan kondisi fundamental, sehingga dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif di masa datang," jelas Hartadi.
Di pasar Asia, dolar AS kembali bergerak melemah seiring meningkatnya lagi 'risk appetite ' yang membuat investor semakin meninggalkan mata uang yang lebih aman.
Dolar AS melemah ke 88,35 yen, dibandingkan sebelumnya di 88,60 yen. Euro menguat ke 1,4745 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,4689 dolar.
"Dolar AS masih tetap rentan melawan dukungan risk appetite ," ujar Mitul Kotecham analis dari Calyon seperti dikutip dari AFP. (qom/dnl)











































