Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani mengatakan, pelemahan dolar bagi Indonesia menyebabkan pemulihan ekspor global tidak bisa berlangsung secara cepat.
"Kita harus waspada dengan fenomena pelemahan dolar AS ini, sebab recovery (pemulihan) ekspor tidak terlalu cepat, karena memang dolar melemah dalam rangka untuk mengoreksi AS sendiri," ujarnya ketika ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (9/10/2009).
Menurutnya, dengan pelemahan dolar yang terjadi, AS tidak akan melakukan kegiatan impor terlalu banyak agar neraca pembayarannya tidak defisit berlebihan.
"AS tidak akan mengimpor terlalu banyak, dan berarti recovery perekonomian global tidak akan disertai dengan recovery perdagangan internasional secara cepat. Apalagi kalau ditambah kemungkinan proteksionisme dari negara-negara lain," ujarnya.
Pelemahan dolar yang terjadi saat ini merupakan proses perekonomian global yang sedang mencari keseimbangan baru pasca krisis. Dikatakan Sri Mulyani, krisis global ini membuat negara-negara maju seperti AS dan Eropa menghadapi tekanan anggaran sehingga mereka tidak mampu lagi menjaga nilai tukar dolar, serta mendukung dolar sebagai mata uang dunia secara de facto .
"Walaupun China dan Jepang sekalipun mengatakan mata uang global tidak mudah digantikan dalam waktu dekat, artinya penggunaan dolar secara de facto ini akan terus berlangsung, tapi sekarang sudah ada upaya mengalihkan transaksi itu yang selalu terganggu dolar," tuturnya.
Akan tetapi, menurut Sri Mulyani, China menghadapi dilema besar dengan kondisi pelemahan dolar yang terjadi karena China memegang cadangan devisa dalam bentuk mata uang dolar senilai US$ 2 triliun.
"Kalau nilai dolar turun terlalu cepat 10-20% terdepresiasi, berarti nett kekayaan Cina akan merosot sebesar itu. Untuk mata uang lain juga tidak mudah apakah Yen atau Euro tidak semudah melakukan dalam volume yang sama," tutupnya.
(dnl/qom)











































