Demikian dikemukakan oleh Direktur Utama SMGR, Dwi Soetjipto di kantor Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (13/10/2009).
"Secara bottom line, kenaikannya lebih dari 20% di triwulan III-2009," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dwi, kenaikan laba tersebut didapat karena harga jual semen yang stabil sejak awal tahun.
"Pricing-nya sudah bagus walau tidak setinggi tahun lalu, jadi ada sumbangan kenaikan revenue," ungkapnya.
Dampak Gempa Padang
Sementara itu, perseroan kehilangan sekitar 120.000 ton produksi semen akibat berhentinya operasi pabrik anak usahanya, PT Semen Padang beberapa waktu yang lalu. Pabrik tersebut berhenti beroperasi karena diguncang gempa sebesar 7,6 skala richter akhir September lalu.
"Dari sisi produksi, kejadian itu membuat kita minus kira-kira 120.000 ton. Dari rencana produksi kita 18,8 juta ton," ujar Dwi.
Menurutnya, target produksi itu masih bisa dikejar dengan cara mengkonsolidasikan hasil produksi antara beberapa anak usaha beserta Semen Gresik Sendiri.
"Nanti bersinergi, dengan holding dan anak usaha, market Semen Padang kita cover," ungkapnya.
Hingga saat ini, kondisi pabrik Semen Padang sudah beroperasi sekitar 75 persen dari total kapasitas produksi. Perseroan masih akan memperbaiki beberapa peralatan dan saran yang terkena dampak gempa sebelum akhirnya bisa beroperasi secara penuh.
"Mungkin dalam mingu-minggu ini sudah bisa selesai. Ada trafo yang masih harus diperbaiki," imbuhnya.
Sementara itu, mengenai pembangunan pabrik semen Indarung VI yang berlokasi di Sumatera Barat, ia mengaku emiten berkode SMGR itu akan melakukan pengkajian ulang. Kajian ulang dilakukan karena adanya risiko tambahan di daerah rawan gempa tersebut.
"Ada resiko baru yang harus dikaji. Pabrik yang akan dibangun di daerah potensi gempa tingkat keamanan konstruksinya harus lebih tinggi," ujarnya.
Ia mengharapkan, kajian ulang ini bisa rampung pada 2010 sebelum akhirnya diserahkan kepada pemegang saham untuk diminta persetujuan. Pembangunan pabrik itu sendiri rencananya dimulai tahun 2011 dan bisa rampung pada tahun 2014.
Biaya yang diperlukan untuk membangun pabrik tersebut sekitar Rp 3,5 triliun. Proses pendanaannya baru akan dimulai jika pengkajian ulang telah selesai. (ang/dro)











































