Pada awal pembangunan pabrik baru itu, perseroan menggunakan dana pinjaman sebesar Rp 60 miliar. Pinjamam ini berasal dari HSBC Indonesia dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Sampai awal Oktober ini, emiten berkode BATA itu masih mempunyai beban hutang kepada HSBC Indonesia sebesar Rp15 miliar.
"Pinjaman awalnya Rp 60 miliar, tapi sekarang menjadi Rp 15 miliar kepada HSBC Indonesia," terang Direktur Keuangan BATA Fadzilah Mohd. Hussein dalam acara penandatanganan kerjasama cash management dengan HSBC Indonesia di Hongkong Cafe, Jakarta, Rabu(14/10/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat bangun di Purwakarta, kami butuh dana. Terlebih terjadi krisis .Namun kami tetap akan membayar pake short term borrowing," kata Fadzilah.
Ia menjelaskan, perseroan masih memiliki dana yang cukup pada saat melunasi hutang kepada HSBC Indonesia nanti. Namun dana tersebut masih disimpan perseroan untuk alokasi working capital mereka.
Saat ini, pabrik BATA di Purwakarta telah rampung dan mulai berproduksi. Pabrik ini menjadi pengganti pabrik lama yang ada di Kalibata, Jakarta. Untuk alokasi produksi, BATA masih memprioritaskan pasar dalam negeri.
"Volume produksi kami untuk ekspor hanya 5-7%. Negara-negara tujuan ekspor kami ada di Thailand, Singapore, dan Latin America," jelasnya.
Pasar industri sepatu dalam negeri, lanjut Fadzilah, masih sangat potensial. Jumlah penduduk Indonesia yang terus bertambah menjadi alasannya.
"Penduduk di Indonesia terus naik. Otomatis kebutuhan akan sepatu juga tinggi. Saat ini growth-nya berkisar di angka 1,3-1,4 per kapita per orang,"imbuhnya.
Tunjuk HSBC Kelola Cash Management
BATA dengan resmi menunjuk HSBC Global Payments & Cash Management Indonesia untuk mengelola cash management mereka. Selama ini, pengelolaan cash management dilakukan Bata secara internal, hingga perseroan menginginkan suatu perubahan guna efisiensi operasional perusahaan.
Pengelolaan cash management yang dikelola HSBC, nantinya mencakup Integrated Payments Solutions. Ini sebagai pengganti pengelolaan paper-based payments, seperti cek.
"Penanganan transaksi yang berhubungan dengan operasional bisnis mereka, dilakukan secara manual. Untuk itu HSBC punya solusi yaitu Cheque Outsourcing Service (COS)," ujar Head of Global Payments and Cash Management HSBC Indonesia Sunil Veetil.
Solusi COS memungkinkan terjadinya otomatisasi proses pembayaran juga meningkatkan efektifitas pengelolaan kas perusahaan.
"Implementasi ini dapat mengurangi waktu dan biaya administrasi. Juga meniadakan terjadinya penyalahgunaan wewenang (fraud)," katanya.
Menurut Fadzilah, penting bagi perseroan meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Integrated Solution yang ditawarkan HSBC mampu menghadirkan semua kebutuhan BATA.
"Komprehensifnya solusi cash management ini diharapkan meningkatkan efisiensi use of money," tambah Fadzilah.
(ang/ang)











































