Nilai tukar rupiah pun mengikuti tren penguatan tersebut. Pada perdagangan Rabu (14/10/2009), rupiah menguat ke level 9.375 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.445 per dolar AS.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Darmin Nasution mengatakan penguatan rupiah masih wajar jika dibandingkan dengan negara lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Darmin mengatakan, didalam persoalan perubahan kurs ini pertama yang dilakukan adalah menjaga jangan terlalu tinggi volatilitasnya.
"Kedua, kita juga lihat apa masih didalam kisaran fundamental. Kalau masih dalam kisaran itu, kita hanya menjaga agar volatilitasnya jangan terlalu tinggi," tambahnya.
Â
Yang ketiga tambahnya BI juga memperhatikan negara-negara disekitar Indonesia bagaimana.
Sementara euro juga melesat ke titik tertingginya atas dolar AS di 1,49 dolar untuk pertama kalinya sejak Agustus 2008. Euro pada perdagangan di London memang terus melonjak seiring naiknya risk appetite dan prospek suku bunga rendah di AS untuk beberapa waktu.
"Saya kira (euro) 1,50 dolar adalah target berikutnya dan kita mungkin akan melihatnya sangat cepat," ujar David Morrison, analis DFT Global Markets seperti dikutip dari AFP.
Ia menambahkan, para pialang meyakini Bank Sentral AS akan mempertahankan suku bunga rendah mendekati nol persen untuk jangka waktu yang lama.
"Investor fokus pada keyakinan Fed akan mempertahankan suku bunganya untuk waktu yang lama. Juga apapun yang dikatakan Fed dan Depkeu AS, pasar yakin bahwa pemerintah AS senang melihat dolar AS melemah. Meraka hanya ingin meyakinkan bahwa hal itu dilakukan secara bertahap," tambah Morrison.
(dru/qom)











































